Thursday, April 26, 2007

Syariat Islam Rahmat bagi Semua

 

PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

Pendahuluan

Orang miskin dilarang sekolah,” demikian jeritan pilu masyarakat saat ini menanggapi mahalnya biaya pendidikan, khususnya biaya pendidikan tinggi. Betapa tidak, pembiayaan sejumlah PTN yang berformat BHMN (Badan Hukum Milik Negara), tak lagi sepenuhnya ditanggung negara. Maka perguruan tinggi BHMN pun harus mencari biaya sendiri. Pembiayaan pendidikan lalu dibebankan kepada mahasiswa. Sebagai contoh, untuk masuk fakultas kedokteran sebuah PTN melalui “jalur khusus”, ada mahasiswa yang harus membayar Rp 250 juta bahkan Rp 1 miliar (www.wikimu.com).

 

Mahalnya biaya pendidikan itu buah dari kebijakan pemerintah yang mengadopsi ideologi penjajah kafir khususnya AS, yakni neoliberalisme. Sebagai salah satu varian kapitalisme –seperti Keynesian yang mengutamakan intervensi pemerintah– neoliberalisme justru sebaliknya. Neoliberalisme merupakan bentuk baru liberalisme klasik dengan tema-tema pasar bebas, peran negara yang terbatas, dan individualisme (Adams, 2004).

Sayang sekali. Pemerintah yang semestinya bertindak bagaikan penggembala, telah berubah fungsi menjadi serigala buas yang tega menghisap darah rakyatnya sendiri. Di tengah kesulitan hidup yang berat karena kemiskinan, pendidikan mahal akibat tunduk pada agenda neoliberalisme global, semakin melengkapi kegagalan pemerintah sekuler saat ini.

Pendidikan Tanggung Jawab Negara

Beda dengan neoliberalisme, dalam Islam pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (Usus Al-Ta’lim Al-Manhaji, hal. 12).

Mengapa demikian? Sebab negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tak langsung, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman Al-Maliki, 1963).

Dalilnya adalah As-Sunnah dan Ijma’ Sahabat. Nabi SAW bersabda :

“Imam adalah bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas gembalaannya itu.” (HR Muslim).

Setelah perang Badar, sebagian tawanan yang tidak sanggup menebus pembebasannya, diharuskan mengajari baca tulis kepada sepuluh anak-anak Madinah sebagai ganti tebusannya (Al-Mubarakfuri, 2005; Karim, 2001).

Ijma’ Sahabat juga telah terwujud dalam hal wajibnya negara menjamin pembiayaan pendidikan. Khalifah Umar dan Utsman memberikan gaji kepada para guru, muadzin, dan imam sholat jamaah. Khalifah Umar memberikan gaji tersebut dari pendapatan negara (Baitul Mal) yang berasal dari jizyah, kharaj (pajak tanah), dan usyur (pungutan atas harta non muslim yang melintasi tapal batas negara) (Rahman, 1995; Azmi, 2002; Muhammad, 2002).

Sejarah Islam pun telah mencatat kebijakan para khalifah yang menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarananya seperti perpustakaan. Setiap perguruan tinggi itu dilengkapi dengan “iwan” (auditorium), asrama mahasiswa, juga perumahan dosen dan ulama. Selain itu, perguruan tinggi tersebut juga dilengkapi taman rekreasi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan (Khalid, 1994).

Di antara perguruan tinggi terpenting adalah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Al-Mustanshiriyah di Baghdad, Madrasah Al-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Madrasah Mustanshiriyah didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir abad VI H dengan fasilitas yang lengkap. Selain memiliki auditorium dan perpustakaan, lembaga ini juga dilengkapi pemandian dan rumah sakit yang dokternya siap di tempat (Khalid, 1994).

Pada era Khilafah Utsmaniyah, Sultan [Khalifah] Muhammad Al-Fatih (w. 1481 M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstantinopel (Istanbul) Sultan membangun delapan sekolah. Di sekolah-sekolah ini dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu (Shalabi, 2004).

Namun perlu dicatat, meski pembiayaan pendidikan adalah tanggung jawab negara, Islam tidak melarang inisiatif rakyatnya khususnya mereka yang kaya untuk berperan serta dalam pendidikan. Melalui wakaf yang disyariatkan, sejarah mencatat banyak orang kaya yang membangun sekolah dan universitas. Hampir di setiap kota besar, seperti Damaskus, Baghdad, Kairo, Asfahan, dan lain-lain terdapat lembaga pendidikan dan perpustakaan yang berasal dari wakaf (Qahaf, 2005).

Di antara wakaf ini ada yang bersifat khusus, yakni untuk kegiatan tertentu atau orang tertentu. Seperti wakaf untuk ilmuwan hadits, wakaf khusus untuk dokter, wakaf khusus untuk riset obat-obatan, wakaf khusus guru anak-anak, wakaf khusus untuk pendalaman fikih dan ilmu-ilmu Al-Qur`an. Bahkan sejarah mencatat ada wakaf khusus untuk Syaikh Al-Azhar atau fasilitas kendaraannya. Selain itu, wakaf juga diberikan dalam bentuk asrama pelajar dan mahasiswa, alat-alat tulis, buku pegangan, termasuk beasiswa dan biaya pendidikan (Qahaf, 2005).

Walhasil, dengan Islam rakyat akan memperoleh pendidikan formal yang gratis dari negara. Sedangkan melalui inisiatif wakaf dari anggota masyarakat yang kaya, rakyat akan memperoleh pendidikan non formal yang juga gratis atau paling tidak murah bagi rakyat.

Pembiayaan Pendidikan Dalam Khilafah

Sistem pendidikan formal yang diselenggarakan negara Khilafah memperoleh sumber pembiayaan sepenuhnya dari negara (Baitul Mal). Dalam sejarah, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sumber pembiayaan untuk kemaslahatan umum (termasuk pendidikan), berasal dari jizyah, kharaj, dan usyur (Muhammad, 2002).

Terdapat 2 (dua) sumber pendapatan Baitul Mal yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu : (1) pos fai` dan kharaj –yang merupakan kepemilikan negara– seperti ghanimah, khumus (seperlima harta rampasan perang), jizyah, dan dharibah (pajak); (2) pos kepemilikan umum, seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan). Sedangkan pendapatan dari pos zakat, tidak dapat digunakan untuk pembiayaan pendidikan, karena zakat mempunyai peruntukannya sendiri, yaitu delapan golongan mustahik zakat (QS 9 : 60). (Zallum, 1983; An-Nabhani, 1990).

Jika dua sumber pendapatan itu ternyata tidak mencukupi, dan dikhawatirkan akan timbul efek negatif (dharar) jika terjadi penundaan pembiayaannya, maka negara wajib mencukupinya dengan segera dengan cara berhutang (qardh). Hutang ini kemudian dilunasi oleh negara dengan dana dari dharibah (pajak) yang dipungut dari kaum muslimin (Al-Maliki,1963).

Biaya pendidikan dari Baitul Mal itu secara garis besar dibelanjakan untuk 2 (dua) kepentingan. Pertama, untuk membayar gaji segala pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan, seperti guru, dosen, karyawan, dan lain-lain. Kedua, untuk membiayai segala macam sarana dan prasana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku pegangan, dan sebagainya. (An-Nabhani, 1990).

Potensi Sumber Pembiayaan Pendidikan Saat ini

Telah dibahas sebelumnya ketentuan normatif mengenai sumber pembiayaan pendidikan gratis dalam Khilafah. Pertanyaannya adalah, mampukah kita menggratiskan pendidikan sekarang dengan potensi sumber-sumber pembiayaan saat ini?

Dalam APBN 2007, anggaran untuk sektor pendidikan adalah sebesar Rp 90,10 triliun atau 11,8 persen dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun. (www.tempointeraktif.com, 8 Januari 2007). Angka Rp 90,10 triliun itu belum termasuk pengeluaran untuk gaji guru yang menjadi bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang pendidikan, serta anggaran kedinasan.

Misalkan kita ambil angka Rp 90,1 triliun sebagai patokan anggaran pendidikan tahun 2007 yang harus dipenuhi. Dengan melihat potensi kepemilikan umum (sumber daya alam) yang ada di Indonesia, dana sebesar Rp 90,1 triliun akan dapat dipenuhi, asalkan penguasa mau menjalankan Islam, bukan neoliberalisme. Berikut perhitungannya yang diolah dari berbagai sumber :

  • 1. Potensi hasil hutan berupa kayu [data 2007] sebesar US$ 2.5 miliar (sekitar Rp 25 triliun).
  • 2. Potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar [data 1999] sebesar US$ 1.5 miliar (sekitar Rp 15 triliun).
  • 3. Potensi pendapatan emas di Papua (PT. Freeport) [data 2005] sebesar US$ 4,2 miliar (sekitar Rp 40 triliun)
  • 4. Potensi pendapatan migas Blok Cepu per tahun sebesar US$ 700 juta - US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 10 triliun)

Dari empat potensi di atas saja setidak-tidaknya sudah diperoleh total Rp 90 triliun. Kalau masih kurang, jalankan penegakan hukum dengan tegas, insya Allah akan diperoleh tambahan sekitar Rp 54 triliun. Sepanjang tahun 2006, ICW (Indonesia Corruption Watch) mencatat angka korupsi Indonesia sebesar Rp 14,4 triliun. Nilai kekayaan hutan Indonesia yang hilang akibat illegal logging tahun 2006 sebesar Rp 40 triliun.

Penutup 

Jadi, mewujudkan pendidikan gratis di Indonesia sebenarnya sangatlah dimungkinkan. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan tidak adanya potensi pembiayaan, melainkan ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola negara. Pendidikan mahal bukan disebabkan tidak adanya sumber pembiayaan, melainkan disebabkan kesalahan pemerintah yang bobrok dan korup.

Pemerintah seperti ini jelas tidak ada gunanya. Karena yang dibutuhkan rakyat adalah pemerintah yang amanah, yang setia pada Islam dan umatnya. Bukan pemerintah yang tidak becus, yang hanya puas menjadi komprador asing dengan menjalankan neoliberalisme yang kafir. [ ]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maliki, Abdurrahman, As-Siyasah Al-Iqtishadiyah Al-Mutsla, (Hizbut Tahrir : t.p.), 1963

Adams, Ian, Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today), Penerjemah Ali Noerzaman, (Yogyakarta : Penerbit Qalam), 2004

Ash-Shalabi, Ali Muhammad, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Ad-Dawlah Al-Utsmaniyah ‘Awamil al-Nuhudh wa Asbab as-Suquth), Penerjemah Samson Rahman, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar), 2004

An-Nabhani, Taqiyuddin, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, (Beirut : Darul Ummah), 1990

Azmi, Sabahuddin, Islamic Economics, (New Delhi : Goodword Books), 2002

Karim, Adiwarman (Ed.), Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta : IIIT), 2001

Khalid, Abdurrahman Muhammad, Soal Jawab Seputar Gerakan Islam, (Bogor : Pustaka Thariqul Izzah), 1994

Muhammad, Quthb Ibrahim, Kebijakan Ekonomi Umar bin Khaththab (As-Siayasah Al-Maliyah Li ‘Umar bin Khaththab), Penerjemah Ahmad Syarifuddin Shaleh, (Jakarta : ustaka Azzam), 2002

Qahaf, Mundzir, Manajemen Wakaf Produktif (Al-Waqf Al-Islami Tathawwuruhu Idaratuhu Tanmiyatuhu), Penerjemah Muhyiddin Mas Rida, (Jakarta : Khalifa), 2005

Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam (Economics Doctrines of Islam), Jilid 1, Penerjemah Soeroyo & Nastangin, (Yogyakarta : PT. Dhana Bhakti Wakaf), 1995

Yurino, Ari, Privatisasi Dunia Pendidikan: Hancurnya Pendidikan Bangsa, http://www.wikimu.com/News/ DisplayNews.aspx?id=1533&post=3

Zallum, Abdul Qadim, Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah, (Beirut : Darul ‘Ilmi lil Malayin), 1983

Sumber : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=365&Itemid=47

 

Posted by Langgeng at 07:07:53 | Permalink | No Comments »

Wednesday, April 25, 2007

Retrospeksi

MEMELIHARA AMANAH

Suatu ketika saya diamanahi untuk membuat dekorasi berupa tulisan dari kertas yang dipotong kemudian ditempel pada sebuah back drop dari kain yang direntangkan. Biasanya setelah huruf-huruf dari kertas itu siap, saya merentangkan kain back drop dulu ke dinding. Baru setelah itu saya merentangkan seutas tali secara mendatar sebagai patokan dalam menempelkan huruf-huruf tadi.

Hari itu saya merasakah keletihan yang sangat karena berbagai pekerjaan lain yang harus saya selesaikan sebelumnya. Saya mencoba menggunakan cara lain dalam memasang tulisan-tulisan kertas tersebut. Saya pikir cara ini lebih mudah dan hemat energi. Sebelum kain back drop saya rentangkan terlebih dahulu saya gelar di lantai dan saya pasangi tulisan kertas yang sudah saya siapkan. Dengan cara ini saya berharap saya tidak perlu berlulang-ulang jongkok berdiri untuk memasang kertas. Setelah kertas-kertas itu saya tempel barulah saya memasang back drop tersebut. Ternyata tulisannya jadi terlalu rendah dan agak naik turun. Namun karena sudah letih saya mencoba “memaafkan” hal tersebut. Saya langsung berkemas dan pulang.

Malam harinya orang yang mengamanahi saya datang ke rumah dan menyampaikan komplain. Beliau mengatakan bahwa tulisannya terlalu rendah dan naik turun. Bahkan beliau sudah menyiapkan tulisan yang baru dan meminta saya bersama-sama dengannya menempelkan tulisan yang baru malam itu juga.

Sejak peristiwa itu saya tidak pernah diamanahi untuk melakukan pekerjaan serupa kecuali beliau selalu mendapingi saya. Hal itu dilakukannya selama 1 tahun, hingga akhirnya saya “dilepas” untuk mengerjakan sendiri lagi.

Pengalaman ini memberi pelajaran kepada saya, betapa beratnya menjaga amanah / kepercayaan. Sekali saja kita tidak menjaga amanah, orang akan sulit percaya kepada kita. Tak peduli apakah kita sengaja melakukannya atau karena kita benar - benar lalai.

Secara tidak sadar kita acapkali mematahkan semangat atau harapan orang -orang di sekitar kita dengan kelalaian kita. Sebagai contoh, kita telah bersepakat dengan teman-teman untuk bertemu di suatu tempat dan melakukan suatu agenda bersama. Ternyata kita lupa dengan kesepakatan tersebut dan sibuk dengan agenda lain. Atau kita hadir di tempat yang disepakati tetapi kita tidak bisa melaksanakan agenda tersebut karena kelelahan. Sementara itu teman-teman yang lain sudah hadir di tempat dan sudah siap melaksanakan agenda tersebut meski juga dalam kondisi letih. Mereka bela-belain datang untuk memenuhi kesepakatan itu karena menganggap agenda itu teramat penting. Maka hal yang bakal terjadi sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan kemudian patah semangat. Kepercayaan kepada kita pun luntur. Dan bukan hal yang mudah untuk membangun kepercayaan itu kembali. Dalam peristiwa yang saya alami saya masih beruntung bisa mendapatkan kepercayaan itu kembali meski harus membangunnya selama 1 tahun. Tidak sedikit orang yang mengalami hal serupa dan kehilangan kepercayaan selamanya. Bahkan ketika kita benar-benar ingin untuk tidak mengulanginya. “Halah, paling-paling juga ngga jadi kaya yang dulu-dulu,” begitu keluh orang-orang yang terlanjur tidak percaya.

Karenanya menjadi penting bagi kita untuk memikirkan masak-masak manakala mau menerima suatu amanah atau hendak mengadakan suatu janji. Kelalain kita - meski tidak disengaja- bisa membuat orang tidak lagi berharap kepada kita. Yang terlebih penting dari semua itu memelihara amanah adalah perintah Allah SWT. Melaksanakannya berati mentaati perintah Allah dan melalalaikannya berarti melalaikan perintah Allah SWT. Allahua’lam bishshawwab.(LB)

Posted by Langgeng at 09:46:48 | Permalink | No Comments »

Monday, April 16, 2007

Mengapa Fatihatul Umniyah?

 

Fatihatul Umniyah adalah nama tengah dan belakang anak pertama saya. Artinya kurang lebih pembuka harapan. Tapi bukan semata-mata karena nama anak saya, Fatihatul Umniyah saja jadikan sebagai nama blog saya. Tetapi karena obsesi untuk membuka / menumbuhkan harapan sesama lah yang lebih mendorong saya menggunakan nama itu. Saya ingin menggunakan blog saya ini sebagai media untuk saling menumbuhkan harapan.

Sebagaimana kita ketahui di tengah kehidupan yang serba sulit ini, tak jarang himpitan-himpitan yang mendera membuat masyarakat putus asa. tidak sedikit masyarakat akhirnya memilih cara-cara yang tidak cerdas untuk sekedar keluar dari kesulitan yang mengimpit. Yang lebih menyedihkan lagi adalah lebih banyak lagi masyarakat yang putus asa untuk melakukan kebajikan. Seolah-olah kebajikan / amal shalih adalah sebuah kesia-siaan belaka. Akibatnya, kebanyakan masyarakat tidak lagi mempertimbangkan halal haram dalam mengambil tindakan. Ini adalah alamat buruk, karena ketika halal haram sudah tidak lagi dihiraukan manusia turun derajatnya dari sebaik-baik ciptaan menjadi berada dalam derajat yang paling hina.

Di lain pihak, dorongan untuk melakukan keabajikan -dalam artian selalu mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya- tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran atau motivasi individual semata. Ada kalanya seseorang merasa jenuh dan letih menghadapi persoalan kehidupan. Saat seperti bukan tak mungkin semangat yang tadinya membara perlahan meredup dan padam. Dalam kondisi seperti ini diperlukan teman-teman yang bisa membesarkan hati dn menumbuhkan kembali harapan. Bisa memompa kembali semangat untuk meraih kemuliaan.

Untuk itu saya mengundang teman-teman untuk ikut mengirimkan tulisan yang berkaitan dengan motivasi Islami, untuk mendorong semangat -atau lebih tepatnya menumbuhkan harapan- teman-teman yang lain untuk tetap beramal shalih. Kirimkan tulisan teman-teman ke langgeng.basuki@plasa.com. Saya tunggu tulisan teman -teman.

Posted by Langgeng at 10:16:35 | Permalink | No Comments »

Retrospeksi

 

BERSAMA SIAPA ANDA MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR WAKTU,

MAKA AKAN MENJADI SEPERTI MEREKALAH ANDA

Cilacap (15 April 2007 - 03.35 wib)

Selepas SMA saya sempat menganggur selama 2 tahun. Saya habiskan waktu saya untuk melakukan hal - hal positif yang saya bisa. Membaca buku dan majalah, melakukan ibadah sunah, mengunjungi teman, bahkan membuat kliping artikel yang berkaitan dengan Islam. Begitu saya bekerja, saya bertemu dengan orang - orang yang lebih terbiasa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Kendati tidak 100% terpengaruh tetapi minimal ibadah sunah saya sudah mulai berkurang, dan saya mulai ikut - ikutan doyan nonton. Kalau tadinya saya aktif shalat sunnah rawatib, saat itu saya tinggal melaksanakan yang wajib saja.

Keadaan kembali berubah ketika saya pindah kerja di tempat yang baru. Di situ saya ketemu seorang teman kerja yang aktif di Jama’ah Tabligh. Karena pertemuan yang rutin akhirnya saya pun terbawa lebih giat lagi beribadah dan menambah tsqaqfah Islam saya, meski saya tidak ikut aktif di organisasinya.

Tatkala saya bertemu kembali dengan teman lama yang ternyata telah aktif di suatu gerakan dakwah, dan dia pulang untuk mengembangkannya di tempat saya tinggal, saya pun menjadi begitu bersemangat untuk ikut ambil bagian. Obrolan - obrolan kami tentang Islam seperti menyuntikan semangat baru kepada saya.

Suatu ketika saya berada pada kondisi yang jenuh, emosional, dan mudah mengeluh. Ternyata setelah saya selidiki karena lingkungan kerja saya pun penuh dengan orang - orang sibuk yang menimbun begitu banyak kekecewaan. Sehingga akhirnya keluar keluhan - keluhan dan sadar atau tidak saya pun mengalami hal serupa meski dengan intesitas berbeda. Muncul rasa malas dan tak bersemangat.

Penggalan - penggalan pengalaman saya di atas adalah sebuah pelajaran. Betapa pengaruh lingkungan sedemikian kuat. Kalaupun pola fikir kita tidak terpengaruh dengan lingkungan kita mungkin pola sikap kita yang akat terpengaruh. Bila kita biasa menghabiskan waktu kita untuk ngobrol dan nggosip maka kita akan sibuk memikirkan hal - hal remeh temeh yang bukan urusan kita atau tidak ada manfaatnya bagi kita. Bila kita lebih banyak menghabiskan wkatu kita dengan orang-orang yang berdiskusi tentang agama, semangat hidup, dan perjuangan, maka kitapun akan menjadi orang yang bersemangat dan memiliki daya juang. Karenanya bila kita ingin menjadi orang yang shalih bergaulah dan habiskan waktu yang kita miliki bersama orang - orang yang shalih. Bila kita ingin senantiasa berpikir dan bersikap positif perbanyaklah bergaul dengan orang yang senantiasa berpikir dan bersikap positif. Kalau kita ingin menjadi usahawan yang sukses bergaulah dengan para usahawah yang sukses.

Anda tentu - di dalam lubuk hati yang terdalam - mengakui bahwa menyontek adalah perbuatan yang tidak terpuji. Namun karena pengaruh lingkungan bisa saja anda terbawa dan ikut - ikutan teman - teman menyontek ketika ulangan atau ujian. Karenanya, bila anda ingin meraih hasil belajar yang baik tanpa menyontek, bergaulah dengan para juara kelas, yang memang mereka meraih hasil belajar dengan belajar keras. Setidaknya dengan bergaul denga mereka kita jadi tahu trik - trik apa yang mereka lakukan untuk menguasai materi pelajaran.

“Barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi ia akan terkena wanginya. Barang siap bergaul dengan pandai besi dia akan terkena asapnya.” (Al-Hadits) (LB)

Posted by Langgeng at 08:53:04 | Permalink | No Comments »

Wednesday, April 11, 2007

 

Minadz dzulumaati Ilannuur

(Habis Gelap Terbitlah Terang?)

Tanggal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Sebagian masya-rakat beranggapan, Kartini memperjuangkan Emansipasi, Feminisme, Liberalisme, dll. Mereka beranggapan bahwa Kartinilah pelopor perjuangan wanita agar setara dengan laki-laki dalam berbagai hal. Nama Kartini mereka jadikan legalisasi atas apa yang mereka lakukan. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak ada hubungannya sama sekali? Maka kita perlu meninjau kembali perjuangan Beliau.

Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadat serta tata cara ningrat jawa, feodalisme, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat kebanyakan. Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja”

 

Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa dimana seseorang diukur dengan darah keningratan. Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya. Ini terlihat dalam suratnya pada Stella pada tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramala sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!”

Kartini berupaya untuk memajukan kaum wanita dimasanya (masa penjajahan). Pada saat itu wanita tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki, mereka dinomor duakan, bahkan dalam segala aspek kehidupan. Perjuangan Kartini tidaklah berarti untuk menyaingi laki-laki, namun memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Selain itu juga dapat di lihat dari suratnya kepada Nyonya Abendanon, 4 September 1901: “Pergilah! Laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik (haq) dan mana yang jahat (bathil). Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi”. Dengan demikian, perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.

Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, namun pada dasarnya ia tidak memperjuangkan dan tidak menginginkan emansipasi dan feminisme. Keterpengaruhannya oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, dikarenakan ia belum memahami Islam secara benar. Ia mengaji dan membaca Alqur’an tetapi tidak dapat memahai isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Kartini merasa kecewa dan ini diungkapkan pada suratnya yang ditujukan kepada Abendanon, tertanggal 15 Agustus 1902 : “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

Selain itu Kartini memang banyak bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, seakan-akan mereka adalah orang yang ingin menolong Kartini, namun sebenarnya mereka adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah Mr.J.H. Abendanon (memperalat Kartini untuk membaratkan gadis-gadis bumiputera saat itu, ia adalah teman Snouck Hurgronye, (orientalis Yahudi) dan istrinya; Dr. Adriani (sahabat pena Kartini, seorang ahli bahasa dan pendeta yang misinya menyebarkan agama Kristen di suku Toraja), Anni Glasser (Pengajar privat Kartini yang dikirim Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini, Stella (sahabat pena Kartini, wanita Yahudi, anggota militan Pergerakan Feminisme di Belanda), Ir. H. Van Kol (seorang insinyur, ahli dalam masalah-masalah kolonial, ia mendukung Kartini sekolah ke Belanda untuk menjadikannya saksi hidup akan kebobrokan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan hingga dapat memenangkan partainya (Sosialis) di Parlemen), dan Ny. Van Kol (yang berusaha mengkristenkan Kartini).

Tetapi, Kartini diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki dirinya, Ia bertemu dengan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Lewat Kyai ini, Kartini terbuka pikirannya dan meminta diajarkan agama dengan mempelajari Al Qur’an dengan cara yang dapat ia mengerti. Kemudian Kyai Sholeh Darat memberikan Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada hari pernikahannya (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah saat itu, Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Namun tidak berlangsung lama, karena Kyai Sholeh Darat meninggal dunia sebelum ia menyelesaikan terjemahan Alqur’an tersebut.

Pengaruh agama Islam ternyata sangat kuat membentuk dirinya dan merubah cara pandangnya kepada Barat, ini dapat terlihat pada surat-suratnya:

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 5 maret 1902).

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa yang kebarat-baratan” (Ditujukan kepada Ny Abendanon, 10 Juni 1902).

“Moga-moga Kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai” (ditujukan kepada Ny Van Kol, tgl 21 juli 1902).

“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902).

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (ditujukan kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi????. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya” (ditujukan kepada Abendanon, 31 Januari 1903).

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903). “Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).

Pada saat Kartini mempelajari Al Qur’an melalui terjemahan berbahasa jawa, Kartini menemukan dalam surat Al Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:

“Allah Pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka ialah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.

Maknanya: bahwa Allah lah yang telah membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan kepada cahaya (Minadz dzulumâti ilan Nûr). Kartini sangat terkesan dengan ayat ini, karena ia merasakan secara langsung proses perubahan dirinya sendiri, dari pemikiran jahiliyyah kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, yang olehnya ditulis dalam bahasa Belanda dengan Door Duisternis tot Licht. Kemudian makna ini bergeser tatkala Armijn Pane menerjemahkan kata Door Duisternis tot Licht dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, karena diambil Kartini dari pemahamannya akan ayat Al qur’an, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilik arti ruhiyyah.

Selanjutnya perjuangan Kartini, banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia, dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan Feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Sehingga, muncul persepsi bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan dengan menggunakan nama Kartini. Namun sayang, perjuangan wanita Indonesia kebanyakan telah menyimpang dari perjuangan Kartini, mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita. Tanpa mereka sadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme-Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita-wanita itu sendiri, bahkan membawa kehancuran bagi masyarakat dan negaranya. Hal ini disebabkan, mereka meninggalkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumah tangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Mereka telah terbelenggu kepada perjuangan yang bersifat individual dan semata-mata mendapatkan kemaslahatan.

Disinilah menjadi suatu keharusan, untuk meluruskan peran wanita (khususnya muslimah) dalam usaha untuk mengembalikan kehidupan yang hakiki yang didasarkan kepada Islam sebagai dîn yang Syamil dan Kamil. Perjuangan muslimah untuk kebangkitan ummat yang hakiki tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dengan laki-laki, karena untuk mewujudkan masyarakat Islam, dimana di dalam masyarakat itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengharuskannya berjuang bersama-sama, tidak terpisah-pisah dan bersaing satu sama lain.

Selain itu, perjuangan muslimah tidak hanya untuk skala Indonesia saja, karena umat Islam itu satu tubuh dan syari’atnya satu, nabinya satu dan Tuhannya satu. Sehingga, seharusnya target penegakan masyarakat yang Hakiki, adalah untuk seluruh ummat di dunia. Indonesia adalah salah satu tempat untuk mewujudkan terjadinya kebangkitan ummat yang hakiki, dengan didasarkan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi suatu hal yang penting, muslimah bersama dengan laki-laki muslim bergerak dalam satu gerakan, yang memilik kejelasan pemahaman tentang pemikiran-pemikiran Islam (fikrah) dan metode (thariqah) untuk mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki yaitu kebangkitan Islam untuk diterapkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Selain itu, aktivitas muslimah untuk terlibat mewujudkan kebangkitan yang hakiki jangan sampai meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan fungsi utamanya sebagai ummun wa robbatul bait. Disinilah dituntut bagi muslimah, untuk mampu mengatur diri dan melaksanakan konsep aulawiyyat (prioritas) dalam aktivitasnya, sehingga tidak membawa kemudhorotan bagi diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. Semoga tulisan ini dapat membantu para muslimah untuk dapat ikut berjuang mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki, tentu bersama dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Amîn. [et]

Sumber : http://www.islamuda.com/

Posted by Langgeng at 01:29:45 | Permalink | No Comments »

Monday, April 9, 2007

MOTIVASI DALAM BERPRESTASI

Melejitkan Perubahan

    Sebagaimana diketahui, dewasa ini di tengah-tengah masyarakat  sedang   berlangsung krisis multidimensional. Kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, penindasan, ketidakadilan di segala bidang, kemerosotan moral, peningkatan tindak kriminal dan dan berbagai bentuk penyakit sosial  telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

    Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, puluhan juta orang terpaksa hidup dalam kemiskinan dan puluhan lagi  kehilangan pekerjaan. Sementara,  sekitar 4,5 juta anak harus putus sekolah dan jutaan lainnya mengalami malnutrisi. Hidup semakin tidak mudah dijalani, sekalipun untuk sekadar mencari sesuap nasi. Beban kehidupan bertambah berat seiring dengan kenaikan harga-harga akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Bagi mereka yang lemah iman,  kesulitan-kesulitan yang dihadapi itu dengan mudah mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Berbagai bentuk kriminalitas mulai dari pencopetan, perampokan maupun pencurian dengan pemberatan serta  pembunuhan dan  tindak asusila, budaya permisif, pornografi dengan dalih kebutuhan ekonomi  terasa  semakin meningkat tajam. Di sisi lain, sekalipun pemerintahan baru telah terbentuk, tapi kestabilan politik belum juga kunjung terujud. Bahkan gejolak politik di beberapa daerah malah terasa lebih meningkat. Mengapa semua ini terjadi?

    Dalam keyakinan Islam, berbagai krisis tadi merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan oleh karena tindakan manusia sendiri. Ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surah ar-Rum ayat 41:

“Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan oleh karena tangan-tangan manusia”. (QS. Ar Rum: 41)
    Dalam  kondisi seperti itu, bagaimanakah kita harus bersikap? Menjadi orang yang tetap optimis ataukah justru menjadi pesimis? Semuanya  tergantung pada sudut pandang mana yang  digunakan. Sikap pesimis akan muncul pada  orang-orang yang tidak mengetahui duduk masalah yang sebenarnya  atau apa yang sesungguhnya terjadi,  bagaimana dan dengan apa ia memecahkan masalah yang dihadapinya. Sementara, dengan mengetahui persoalannya dan memandangnya secara jernih disertai upaya terus menerus untuk mencari alternatif pemecahan, sikap optimis dapat dibangun dalam dirinya.

    Mengenai pentingnya cara pandang terhadap persoalan dan sikap pribadi dalam menghadapi setiap masalah, Allah SWT memberikan menegaskan, bahwa  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu suatu kaum, sehingga kaum tersebut mengubahnya sendiri” (QS. Ar Ra’du : 11). Artinya, bahwa berubah atau tidak keadaan seseorang termasuk menjadi pesimis atau optimis semua berpulang kepada yang bersangkutan. Inilah paradigma  paling penting yang harus dipegang oleh setiap orang ketika melihat dirinya dan lingkungannya. Bahwa seseorang harus merubah dirinya (cara atau pola berfikirnya), sebelum melakukan perubahan pada keadaan hidup diri dan masyarakatnya.

    Inilah tugas manusia yang sesungguhnya. Selama ia melakukan sesuatu  dengan benar,  hasil bukanlah segalanya. Namun, sunnatullah telah menggariskan bahwa sesuatu yang benar dan dijalankan dengan benar akan memberikan hasil yang lebih baik. Kalau toh tetap gagal, itu hanyalah keberhasilan yang tertunda.  Maka alangkah bijaknya ungkapan yang menyatakan: Orang yang mencoba mengubah diri dan masyarakat namun gagal adalah lebih baik daripada orang yang enggan  mengubah dirinya sendiri. Jadi, setiap orang harus terus berubah. Menuju keadaan yang lebih baik. Hanya orang yang hari ini lebih baik dari hari sebelumnya saja, yang menurut Rasulullah, disebut beruntung. Kalau sama merugi. Kalau lebih jelek, celakalah orang itu.  Pertanyaannya, akankah seseorang  memiliki kehidupan yang lebih baik jika ia tidak pernah berupaya untuk mengubahnya?  Maka, sebuah syarat yang harus dilalui manusia yang menginginkan perbaikan adalah perubahan. Tidak ada perbaikan tanpa perubahan dan tidak ada perubahan tanpa motivasi dan upaya sungguh-sungguh untuk mengubahnya.

Memilih Motivasi Yang Benar

    Motivasi merupakan dorongan untuk berbuat yang berasal dari dalam diri manusia. Motivasi dalam suatu perbuatan memegang peran sangat penting.  Kuat lemahnya upaya yang dikerahkan seseorang dalam mengerjakan  sesuatu  sangat ditentukan oleh motivasinya.  Oleh karena itu, mengetahui dan membina motivasi yang benar adalah suatu kemestian bagi siapa saja yang ingin meraih keberhasilan.
Motivasi yang mendorong manusia  untuk melakukan perbuatan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yakni:

  1. Motivasi fisik - material.

Manusia terdorong untuk melakukan suatu perbuatan bisa karena keinginan untuk mendapatkan imbalan fisik material, misalnya dengan terpenuhinya  kebutuhan jasmani, baik berupa barang atau uang. Motivasi seperti ini sangat  lemah dan sifatnya sangat sementara.  Misalnya orang yang melakukan sesuatu untuk sekadar mendapat makanan guna  menutupi rasa lapar, maka ketika sudah kenyang ia akan kehilangan motivasi.  Sebaliknya, ia pasti akan kehilangan motivasi untuk melakukan perbuatan yang justru membuat ia lapar, misalnya berpuasa. Apalagi memperjuangkan suatu kebenaran, yang mungkin akan membuatnya menderita.  Jadi, motivasi fisik material sekalipun ada dan memang perlu, tapi sulit untuk dikembangkan untuk menjadi pendorong utama bagi manusia dalam berusaha.

  1. Motivasi psiko-emosional

Motivasi psiko-emosional akan menggerakkan manusia untuk berbuat karena suatu kondisi kejiwaan yang ingin dimiliki seseorang ini seperti rasa kebahagiaan, kehormatan, kebanggaan dan sebagainya. Orang sering menyebutnya kepuasan batin. Misalnya, seseorang  berani  melakukan perlawanan keras terhadap orang yang dinilai telah merusak nama baiknya. Atau berjuang mati-matian dengan mempertaruhkan harta dan jiwa demi menjaga kemerdekaan. Dan sebagainya.  Motivasi ini meski lebih kuat bila dibandingkan dengan motivasi fisik - material, sebenarnya juga masih lemah dan sementara sifatnya.

  1. Motivasi spiritual atau ruhiyah

Inilah motivasi terkuat yang terdapat pada diri manusia. Motivasi ini dibangun oleh kesadaran seorang muslim dalam hubungannya dengan  Allah SWT. Dzat yang menciptakan manusia, menghidupkan, memberi rizki dan mematikan serta akan meminta pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya di dunia.  Motivasi ibadah dan pertanggungan inilah yang mampu  mendorong manusia untuk melakukan perbuatan apa saja, meski harus mengorbankan harta, tenaga dan nyawa sekalipun, selama berjalan dalam batas  yang diperintahkan Allah SWT. Inilah konsep lillahi Ta’ala (demi Allah semata). Bila ditanamkan, dibina dan dijaga dengan sebaik-baiknya,  motivasi ini akan mampu membentuk  pribadi yang konsisten, teguh dan berani. Pada masa Rasulullah, motivasi ini mampu menggetarkan musuh pada Perang Badar meski pasukan musuh berjumlah tiga kali lipat dari pasukan kaum Muslimin. Pada masa sekarang, kita dapati pada  pejabat yang jujur. Mereka berani menolak uang suap milyaran rupiah meski sesungguhnya dari segi materi uang sebanyak itu tentu sangat menggiurkan. Tapi keimanannya kepada Allah mencegahnya untuk berbuat seperti itu.

    Maka, motivasi yang harus dibangun oleh setiap manusia dalam mewujudkan  aktivitas kehidupannya adalah motivasi spiritual semata. Dengan motivasi ini, seseorang akan terpacu untuk berikhtiar terus-menerus disertai dengan sikap tawakal  dan pantang berputus harapan hingga akhirnya meraih keberhasilan dengan izin Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang.  Inilah motivasi berprestasi yang sesungguhnya.

Tujuan Perbuatan Manusia

    Selain motivasi perbuatan, setiap manusia dituntut pula untuk mengetahui tujuan dari setiap perbuatannya, sehingga ia mampu menghasilkan sesuatu dengan baik. Tanpa adanya pemahaman tentang tujuan perbuatan itu, seseorang tidak akan dapat menentukan apakah ia berhasil  ataukah tidak. Manusia juga akan sangat mudah  terjebak untuk melakukan segala sesuatu hanya karena dasar materi belaka sebagaimana perilaku kebanyakan orang dalam era materialisme sekarang ini.
Nilai-nilai  yang dapat diraih manusia antara lain:

1. Nilai Materi.

Beberapa aktivitas manusia di antaranya memang akan memberi hasil berupa materi semisal uang dan harta kekayaan lainnya. Contohnya adalah bekerja. Dengan memahami bahwa bekerja adalah untuk memperoleh materi, maka seseorang akan mengarahkan usaha dagangnya untuk memperoleh keuntungan, usaha pertaniannya untuk memperoleh hasil panen yang baik, jika bekerja untuk orang lain ia akan bekerja dengan sebaik-baiknya agar dapat menerima upah atau gaji dan sebagainya.

2. Nilai Kemanusiaan

Nilai ini  berupa layanan atau sikap baik manusia kepada sesama manusia. Misalnya,  membantu orang-orang yang kesulitan  materi, menyelamatkan orang yang tenggelam, dan sebagainya. Semua ini dilakukan semata karena unsur kemanusiaan dan bukan untuk memperoleh nilai materi.

3. Nilai Akhlaq

Nilai akhlaq akan dicapai manakala dalam setiap perbuatan dihiasi dengan sifat-sifat (akhlaq) sesuai yang diperintahkan Allah SWT. Sikap jujur, amanah, peduli, menepati janji, sopan, tawadlu’ dan sebagainya merupakan sifat baik yang tidak memiliki nilai materi. Dengan kata lain, adalah tidak tepat jika seseorang menampakkan jujur dalam berdagang atau amanah dalam melakukan tugas karena ingin memperoleh keuntungan materi. Meski akhlaq juga berimplikasi positif terhadap perolehan nilai lainnya.

  1. Nilai Spiritual

Nilai spiritual dicapai dengan tujuan agar (kesadaran) hubungan seseorang dengan Tuhannya dapat meningkat. Nilai ini bersifat pribadi, sebab hanya dia yang dapat merasakannya, orang lain tidak. Misalnya ketika orang melakukan shalat, membayar zakat,  berhaji dan sebagainya.

Bagaimana Seharusnya Manusia Berbuat

    Sebagaimana telah diketahui, ketika menciptakan  manusia, Allah SWT melengkapinya dengan potensi-potensi kehidupan yang secara fitri akan mendorongnya untuk beraktifitas mewujudkan visi dan misi penciptaannya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Potensi kehidupan yang dimaksud berupa kebutuhan jasmani dan naluri.

    Kebutuhan jasmani dapat berupa rasa lapar, haus dan keinginan buang hajat besar dan kecil, sementara naluri terdiri dari naluri beragama (gharizatu al-tadayun) yang perwujudannya berupa kecenderungan manusia untuk melakukan ibadah atau aktifitas mensucikan segala sesuatu yang dianggapnya besar; naluri  melangsungkan keturunan (gharizatu al nau’) dimana perwujudannya diantaranya berupa ketertarikan manusia kepada lawan jenisnya; dan naluri untuk mempertahankan diri (gharizatu al baqa’), yang salah satu wujudnya adalah keinginan manusia untuk menjadi pemimpin.

    Kebutuhan jasmani dan naluri itu menghendaki pemenuhan. Perwujudannya melalui tindakan dan usaha manusia. Persoalannya kemudian adalah bagaimana cara manusia memuaskan semua kebutuhan jasmani dan naluri-naluri itu. Bagi seorang muslim, upaya memenuhi dan menyalurkan segenap potensi kehidupan itu semestinya senantiasa harus berlandaskan pada aturan-aturan syariat Allah.  Upaya pemenuhan i kebutuhan jasmani dan naluri dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan Allah berarti  bertentangan dengan hakikat visi dan misi penciptaan manusia itu sendiri.  
    Bila diperhatikan secara seksama, setiap manusia dalam melakukan setiap perbuatan akan melewati tahapan berikut, yaitu

  1. Berawal dari naluri atau kebutuhan jasmani,
  2. Mengindera  dorongan yang muncul, berupa  naluri atau kebutuhan jasmani,
  3. Menetapkan motivasi perbuatan,
  4. Berfikir tentang cara  memenuhi dorongan dengan benar, baik dan sempurna sesuai dengan tuntunan  syariah,
  5. Usaha apa yang diperlukan untuk memenuhi naluri dan/atau kebutuhan jasmani,
  6. Berupaya mendapatkan nilai yang ingin dicapai.

Karakter Pemimpin

    Prof. Dr. David C. McClelland, psikolog  dari Universitas Harvard pada tahun 1961 merilis sebuah teori yang disebut motivasi berprestasi.  Teori ini bermakna suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan  suatu aktivitas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. Dari penelitiannya - juga Murray (1957) serta Miller dan Gordon (1970) - dapat disimpulkan terdapatnya hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian prestasi. Artinya, manajer yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi cenderung memiliki prestasi kerja tinggi, dan sebaliknya  mereka yang prestasi kerjanya rendah dimungkinkan karena motivasi berprestasinya juga rendah.  Dan ternyata, motivasi berprestasi seseorang sangat berhubungan dengan dua faktor, yaitu tingkat kecerdasan (IQ) dan kepribadian.  Artinya, orang akan mempunyai motivasi berprestasi tinggi bila memiliki kecerdasan yang memadai dan kepribadian yang dewasa. Ia akan mampu mencapai prestasi maksimal. Hal ini karena ia didukung oleh dua kemampuan yang berasal dari  kedua faktor tersebut. IQ merupakan kemampuan potensi  dan kepribadian merupakan kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan fungsi psiko-fisiknya yang sangat menentukan dirinya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

Menjadi “Manusia Pembangun”

    Dalam kondisi faktual seperti sekarang ini, sesuai dengan  paradigma perubahan seperti telah dijelaskan di atas, maka harus dicetak “manusia-manusia pembangun” yang akan menggerakkan masyarakat ke arah perbaikan. Manusia pembangun adalah orang yang memiliki pengetahuan, keahlian dan ketrampilan dalam bidangnya, sekaligus memiliki mental pemimpin yang memotivasi proses perbaikan kelompok masyarakat di mana ia berada. Misalnya, dalam kelompok petani, kelompok wanita, kelompok remaja, perkumpulan guru-guru, perkumpulan rekan sekerja, kelompok mahasiswa, kelompok pelajar, atau yang lainnya. Ia memiliki kesadaran dan perhatian baik pada diri sendiri maupun orang lain dan memiliki motivasi untuk berprestasi.

    Seorang pemimpin yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi memiliki  karakteristik, antara lain:

  1. memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi;
  2. memiliki program kerja berdasarkan rencana dan tujuan yang realistik serta berjuang untuk merealisasikannya;
  3. memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan berani mengambil risiko yang dihadapi-nya;
  4. melakukan  pekerjaan  yang  berarti  dan   menyelesaikannya  dengan   hasil   yang memuas-kan;
  5. mempunyai keinginan menjadi orang terkemuka yang menguasai bidang tertentu.

    Sebaliknya pemimpin yang motif berprestasinya rendah, dicirikan oleh sejumlah hal berikut :

  1. kurang memiliki tanggung jawab pribadi dalam mengerjakan suatu aktivitas;
  2. memiliki program kerja tetapi tidak didasarkan pada rencana dan tujuan yang realistik serta lemah rnelaksanakannya;
  3. bersikap apatis dan tidak percaya diri;
  4. ragu-ragu dalam mengambil keputusan;
  5. tindakannya kurang terarah pada tujuan.

    Pembangunan masyarakat hanya dapat digalakkan oleh manusia-manusia yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungannya. Antara lain, ia harus mengenali diri sendiri dengan baik, dapat menerima dirinya sendiri dengan segala kelemahan dan keunggulan, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya, tidak mudah terpengaruh, tidak mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan kelompok atau masyarakat umum.

    Kelompok yang berfungsi dengan baik maksudnya adalah adanya satu kelompok yang anggotanya mempunyai motivasi yang jelas, yang bekerja secara terkoordinasi, terarah, dan teratur, dan yang tidak terhambat oleh emosi, masalah-masalah pribadi atau masalah interaksi. Kelompok ini memperhatikan tugasnya maupun manusianya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering terjadi adalah adanya masalah pada diri  manusianya yang mengakibatkan tugas kelompok terganggu.
    Di samping mempunyai sifat seperti dijelaskan di atas, penggerak masyarakat diharapkan supaya:

  1. dapat mengatasi perselisihan;
  2. dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat;
  3. dapat berpikir kreatif untuk mendorong dan merangsang orang lain;
  4. dapat merencanakan sesuatu dengan orang lain;
  5. mampu berunding dan bekerja sama dengan siapa pun;
  6. dapat   mengurangi   hambatan   untuk   bekerja   sama   di   dalam kelompok tempat ia bekerja;
  7. dapat mengamati dan menangkap proses serta perkembangan di dalam kelompok;
  8. dapat berkomunikasi dengan jelas dan efektif;
  9. bersedia untuk memberi dan menerima umpan-balik (feed-back);
  10. bersedia  untuk  membagi  pengetahuannya;
  11. menganggap orang lain sebagai partner yang berhak sama, bukan sebagai anak buah (berdiri sama tinggi, duduk sama rendah).

Penutup
    Dengan demikian, menjalankan pembangunan tidaklah dapat dilaksanakan dengan seadanya. Dibutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan unggul. Dan hal ini harus dipelajari dan dikembangkan melalui proses pembelajaran terus menerus dan tidak terbatas pada lembaga formal. Dengan upaya ini, insya Allah sedikit demi sedikit masyarakat akan mengalami kemajuan. Oleh karena itu, inilah saatnya untuk mengatakan “Jika kita berfikir bisa maka Insya Allah akan bisa”.

http://kspei.multiply.com/journal

Posted by Langgeng at 02:31:43 | Permalink | Comments (2)