Retrospeksi
BERSAMA SIAPA ANDA MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR WAKTU,
MAKA AKAN MENJADI SEPERTI MEREKALAH ANDA
Cilacap (15 April 2007 - 03.35 wib)
Selepas SMA saya sempat menganggur selama 2 tahun. Saya habiskan waktu saya untuk melakukan hal - hal positif yang saya bisa. Membaca buku dan majalah, melakukan ibadah sunah, mengunjungi teman, bahkan membuat kliping artikel yang berkaitan dengan Islam. Begitu saya bekerja, saya bertemu dengan orang - orang yang lebih terbiasa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Kendati tidak 100% terpengaruh tetapi minimal ibadah sunah saya sudah mulai berkurang, dan saya mulai ikut - ikutan doyan nonton. Kalau tadinya saya aktif shalat sunnah rawatib, saat itu saya tinggal melaksanakan yang wajib saja.
Keadaan kembali berubah ketika saya pindah kerja di tempat yang baru. Di situ saya ketemu seorang teman kerja yang aktif di Jama’ah Tabligh. Karena pertemuan yang rutin akhirnya saya pun terbawa lebih giat lagi beribadah dan menambah tsqaqfah Islam saya, meski saya tidak ikut aktif di organisasinya.
Tatkala saya bertemu kembali dengan teman lama yang ternyata telah aktif di suatu gerakan dakwah, dan dia pulang untuk mengembangkannya di tempat saya tinggal, saya pun menjadi begitu bersemangat untuk ikut ambil bagian. Obrolan - obrolan kami tentang Islam seperti menyuntikan semangat baru kepada saya.
Suatu ketika saya berada pada kondisi yang jenuh, emosional, dan mudah mengeluh. Ternyata setelah saya selidiki karena lingkungan kerja saya pun penuh dengan orang - orang sibuk yang menimbun begitu banyak kekecewaan. Sehingga akhirnya keluar keluhan - keluhan dan sadar atau tidak saya pun mengalami hal serupa meski dengan intesitas berbeda. Muncul rasa malas dan tak bersemangat.
Penggalan - penggalan pengalaman saya di atas adalah sebuah pelajaran. Betapa pengaruh lingkungan sedemikian kuat. Kalaupun pola fikir kita tidak terpengaruh dengan lingkungan kita mungkin pola sikap kita yang akat terpengaruh. Bila kita biasa menghabiskan waktu kita untuk ngobrol dan nggosip maka kita akan sibuk memikirkan hal - hal remeh temeh yang bukan urusan kita atau tidak ada manfaatnya bagi kita. Bila kita lebih banyak menghabiskan wkatu kita dengan orang-orang yang berdiskusi tentang agama, semangat hidup, dan perjuangan, maka kitapun akan menjadi orang yang bersemangat dan memiliki daya juang. Karenanya bila kita ingin menjadi orang yang shalih bergaulah dan habiskan waktu yang kita miliki bersama orang - orang yang shalih. Bila kita ingin senantiasa berpikir dan bersikap positif perbanyaklah bergaul dengan orang yang senantiasa berpikir dan bersikap positif. Kalau kita ingin menjadi usahawan yang sukses bergaulah dengan para usahawah yang sukses.
Anda tentu - di dalam lubuk hati yang terdalam - mengakui bahwa menyontek adalah perbuatan yang tidak terpuji. Namun karena pengaruh lingkungan bisa saja anda terbawa dan ikut - ikutan teman - teman menyontek ketika ulangan atau ujian. Karenanya, bila anda ingin meraih hasil belajar yang baik tanpa menyontek, bergaulah dengan para juara kelas, yang memang mereka meraih hasil belajar dengan belajar keras. Setidaknya dengan bergaul denga mereka kita jadi tahu trik - trik apa yang mereka lakukan untuk menguasai materi pelajaran.
“Barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi ia akan terkena wanginya. Barang siap bergaul dengan pandai besi dia akan terkena asapnya.” (Al-Hadits) (LB)