Wednesday, April 25, 2007

Retrospeksi

MEMELIHARA AMANAH

Suatu ketika saya diamanahi untuk membuat dekorasi berupa tulisan dari kertas yang dipotong kemudian ditempel pada sebuah back drop dari kain yang direntangkan. Biasanya setelah huruf-huruf dari kertas itu siap, saya merentangkan kain back drop dulu ke dinding. Baru setelah itu saya merentangkan seutas tali secara mendatar sebagai patokan dalam menempelkan huruf-huruf tadi.

Hari itu saya merasakah keletihan yang sangat karena berbagai pekerjaan lain yang harus saya selesaikan sebelumnya. Saya mencoba menggunakan cara lain dalam memasang tulisan-tulisan kertas tersebut. Saya pikir cara ini lebih mudah dan hemat energi. Sebelum kain back drop saya rentangkan terlebih dahulu saya gelar di lantai dan saya pasangi tulisan kertas yang sudah saya siapkan. Dengan cara ini saya berharap saya tidak perlu berlulang-ulang jongkok berdiri untuk memasang kertas. Setelah kertas-kertas itu saya tempel barulah saya memasang back drop tersebut. Ternyata tulisannya jadi terlalu rendah dan agak naik turun. Namun karena sudah letih saya mencoba “memaafkan” hal tersebut. Saya langsung berkemas dan pulang.

Malam harinya orang yang mengamanahi saya datang ke rumah dan menyampaikan komplain. Beliau mengatakan bahwa tulisannya terlalu rendah dan naik turun. Bahkan beliau sudah menyiapkan tulisan yang baru dan meminta saya bersama-sama dengannya menempelkan tulisan yang baru malam itu juga.

Sejak peristiwa itu saya tidak pernah diamanahi untuk melakukan pekerjaan serupa kecuali beliau selalu mendapingi saya. Hal itu dilakukannya selama 1 tahun, hingga akhirnya saya “dilepas” untuk mengerjakan sendiri lagi.

Pengalaman ini memberi pelajaran kepada saya, betapa beratnya menjaga amanah / kepercayaan. Sekali saja kita tidak menjaga amanah, orang akan sulit percaya kepada kita. Tak peduli apakah kita sengaja melakukannya atau karena kita benar - benar lalai.

Secara tidak sadar kita acapkali mematahkan semangat atau harapan orang -orang di sekitar kita dengan kelalaian kita. Sebagai contoh, kita telah bersepakat dengan teman-teman untuk bertemu di suatu tempat dan melakukan suatu agenda bersama. Ternyata kita lupa dengan kesepakatan tersebut dan sibuk dengan agenda lain. Atau kita hadir di tempat yang disepakati tetapi kita tidak bisa melaksanakan agenda tersebut karena kelelahan. Sementara itu teman-teman yang lain sudah hadir di tempat dan sudah siap melaksanakan agenda tersebut meski juga dalam kondisi letih. Mereka bela-belain datang untuk memenuhi kesepakatan itu karena menganggap agenda itu teramat penting. Maka hal yang bakal terjadi sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan kemudian patah semangat. Kepercayaan kepada kita pun luntur. Dan bukan hal yang mudah untuk membangun kepercayaan itu kembali. Dalam peristiwa yang saya alami saya masih beruntung bisa mendapatkan kepercayaan itu kembali meski harus membangunnya selama 1 tahun. Tidak sedikit orang yang mengalami hal serupa dan kehilangan kepercayaan selamanya. Bahkan ketika kita benar-benar ingin untuk tidak mengulanginya. “Halah, paling-paling juga ngga jadi kaya yang dulu-dulu,” begitu keluh orang-orang yang terlanjur tidak percaya.

Karenanya menjadi penting bagi kita untuk memikirkan masak-masak manakala mau menerima suatu amanah atau hendak mengadakan suatu janji. Kelalain kita - meski tidak disengaja- bisa membuat orang tidak lagi berharap kepada kita. Yang terlebih penting dari semua itu memelihara amanah adalah perintah Allah SWT. Melaksanakannya berati mentaati perintah Allah dan melalalaikannya berarti melalaikan perintah Allah SWT. Allahua’lam bishshawwab.(LB)

Posted by Langgeng in 09:46:48 | Permalink | No Comments »