Kisah yang menginspirasi
DUIT “HU AKBAR”
“Orang-orang itu keliru. Di dalam Al-Quran saya tidak menemukan satu ayatpun yang menyuruh kita kaya. Yang ada kita disuruh beriman dan beramal sholeh. Jadi kalau saya tidak kaya saya tidak gelisah. Tapi kalau saya tidak beriman dan tidak beramal sholeh, baru saya gelisah.” demikian ungkap seorang guru dimana saya bekerja. Beliau ini memang terbilang “aneh” dan sering menyulut kontroversi di kalangan rekan-rekannya karena ide-ide yang dilemparkannya. Namun saya tidak sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari ide – ide yang beliau sampaikan melalui berbagai dialog yang beliau lakukan dengan siapapun –menurut saya memang mencerminkan- spiritualitas beliau yang begitu kuat. Maksud saya, kesadaran beliau akan keberadaan kita sebagai makhluk yang harus mentaati perintah-perintah dan menjauhi laranganNya.
Dulu ketika awal-awal bertemu beliau saya sering mendengar beliau mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak menjadikan Allahu Akbar (maksudnya tidak meng-Akbarkan Allah), tetapi menjadikan pekerjaan “hu Akbar”, duit “hu Akbar”, dan sebagainya. Sebuah ungkapan yang memang aneh (karena beliau memang tidak paham bahasa Arab), tetapi mencerminkan, ya itu tadi, spiritualitas yang begitu kuat. Setiap mendengar adzan beliau langsung mengajak siapapun untuk shalat dulu. “Ayo, sudah Allahu Akbar”, katanya.
Yang unik dari beliau ini adalah beliau hingga kini belum bisa membaca Al-Quran, tetapi “hobi”nya adalah menelurusi terjemahan Al-Quran. Dari terjemahan ayat-ayat itulah beliau terinspirasi, tergugah, dan kemudian mendorong semangatnya untuk taat kepada Allah. Di samping itu kendati beliau mempunyai keterbatasan verbal di dalam mengungkapkan ide-idenya. (Beliau termasuk tidak pandai memilih kata-kata), beliau tetap bersemangat menyampaikan ide-ide Islam yang beliau pahami kepada siapapun. Mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan guru, satpam, pesuruh (istilah kerennya OB), para bakul di kantin sekolah, bahkan dengan para mubaligh yang beliau temui. Kita bisa menyebut aktifitas beliau ini sebagai dakwah atau amar ma’ruf nahi mungkar. Tetapi tentu tidak menganggapnya begitu. Beliau melakukan semua itu karena sebuah kesadaran bahwa dimanapun beliau berada harus bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “Kalau ndak begitu percuma kamu jadi sarjana,” kata beliau menirukan pesan kakaknya. Ada yang menentang? Sudah pasti.
Kembali kepada ungkapannya beliau yang saya sampaikan di atas, tentu yang beliau maksud bukanlah bahwa kita tidak boleh kaya. Melainkan apakah kekayaan yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak atau tidak. “Kalau makan pepaya jangan sama kulit dan bijinya,”kata beliau. “Sebarkan bijinya biar menjadi tanaman yang nantinya akan berbuah dan dinikmati banyak orang. Sedang kulitnya bisa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman tadi.” Ya, memang kekayaan acap membuat kita lupa diri. Lupa bahwa bila kita tak pandai mengelola, kekayaan bisa menjadi beban di dunia dan belenggu di akhirat kelak. Betapa tidak? Orang harus menyiapkan dana khusus untuk melakukan pemeliharaan dan pengamanan harta yang dimiliki. Bukankah ini menjadi beban? Ya tidak bila kita bisa mengelolanya dengan baik. Seorang pengusaha di daerah Kroya berprinsip lebih baik memagari perusahaannya dengan nasi dari pada memagarinya dengan kawat berduri. Maksudnya, dia lebih suka membagikan sebagian rejeki yang diperoleh dari usahanya untuk kesejahteraann masyarakat sekitar dari pada untuk membeli kawat berduri untuk pengamanan perusahaannya. Dengan berbagi keberadaannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Maka dia tidak perlu khawatir orang-orang sekitar akan mencuri atau merampok hartanya. Bahkan bukan mustahil ikut menjaganya.
Menjadi belenggu di akhirat? Ya, tentu saja. Bila harta yang kita miliki justru membuat kita lalai dariNya. Kita sibuk mengumpulkan, menghitung-hitung, dan menahan hak para fakir miskin yang ada pada harta itu. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Allah di dalam Surat Al-Humazah.
Semoga kita menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, dengan menjadikan menjadikannya sebagai sarana untuk mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Allahu Akbar!! Allahu a’lam bishshawab.
Yang unik dari beliau ini adalah beliau hingga kini belum bisa membaca Al-Quran, tetapi “hobi”nya adalah menelurusi terjemahan Al-Quran. Dari terjemahan ayat-ayat itulah beliau terinspirasi, tergugah, dan kemudian mendorong semangatnya untuk taat kepada Allah. Di samping itu kendati beliau mempunyai keterbatasan verbal di dalam mengungkapkan ide-idenya. (Beliau termasuk tidak pandai memilih kata-kata), beliau tetap bersemangat menyampaikan ide-ide Islam yang beliau pahami kepada siapapun. Mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan guru, satpam, pesuruh (istilah kerennya OB), para bakul di kantin sekolah, bahkan dengan para mubaligh yang beliau temui. Kita bisa menyebut aktifitas beliau ini sebagai dakwah atau amar ma’ruf nahi mungkar. Tetapi tentu tidak menganggapnya begitu. Beliau melakukan semua itu karena sebuah kesadaran bahwa dimanapun beliau berada harus bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “Kalau ndak begitu percuma kamu jadi sarjana,” kata beliau menirukan pesan kakaknya. Ada yang menentang? Sudah pasti.
Kembali kepada ungkapannya beliau yang saya sampaikan di atas, tentu yang beliau maksud bukanlah bahwa kita tidak boleh kaya. Melainkan apakah kekayaan yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak atau tidak. “Kalau makan pepaya jangan sama kulit dan bijinya,”kata beliau. “Sebarkan bijinya biar menjadi tanaman yang nantinya akan berbuah dan dinikmati banyak orang. Sedang kulitnya bisa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman tadi.” Ya, memang kekayaan acap membuat kita lupa diri. Lupa bahwa bila kita tak pandai mengelola, kekayaan bisa menjadi beban di dunia dan belenggu di akhirat kelak. Betapa tidak? Orang harus menyiapkan dana khusus untuk melakukan pemeliharaan dan pengamanan harta yang dimiliki. Bukankah ini menjadi beban? Ya tidak bila kita bisa mengelolanya dengan baik. Seorang pengusaha di daerah Kroya berprinsip lebih baik memagari perusahaannya dengan nasi dari pada memagarinya dengan kawat berduri. Maksudnya, dia lebih suka membagikan sebagian rejeki yang diperoleh dari usahanya untuk kesejahteraann masyarakat sekitar dari pada untuk membeli kawat berduri untuk pengamanan perusahaannya. Dengan berbagi keberadaannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Maka dia tidak perlu khawatir orang-orang sekitar akan mencuri atau merampok hartanya. Bahkan bukan mustahil ikut menjaganya.
Menjadi belenggu di akhirat? Ya, tentu saja. Bila harta yang kita miliki justru membuat kita lalai dariNya. Kita sibuk mengumpulkan, menghitung-hitung, dan menahan hak para fakir miskin yang ada pada harta itu. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Allah di dalam Surat Al-Humazah.
Semoga kita menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, dengan menjadikan menjadikannya sebagai sarana untuk mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Allahu Akbar!! Allahu a’lam bishshawab.