Tuesday, May 15, 2007

Kisah yang menginspirasi

DUIT “HU AKBAR”

“Orang-orang itu keliru. Di dalam Al-Quran saya tidak menemukan satu ayatpun yang menyuruh kita kaya. Yang ada kita disuruh beriman dan beramal sholeh. Jadi kalau saya tidak kaya saya tidak gelisah. Tapi kalau saya tidak beriman dan tidak beramal sholeh, baru saya gelisah.” demikian ungkap seorang guru dimana saya bekerja. Beliau ini memang terbilang “aneh” dan sering menyulut kontroversi di kalangan rekan-rekannya karena ide-ide yang dilemparkannya. Namun saya tidak sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari ide – ide yang beliau sampaikan melalui berbagai dialog yang beliau lakukan dengan siapapun –menurut saya memang mencerminkan- spiritualitas beliau yang begitu kuat. Maksud saya, kesadaran beliau akan keberadaan kita sebagai makhluk yang harus mentaati perintah-perintah dan menjauhi laranganNya.
Dulu ketika awal-awal bertemu beliau saya sering mendengar beliau mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak menjadikan Allahu Akbar (maksudnya tidak meng-Akbarkan Allah), tetapi menjadikan pekerjaan “hu Akbar”, duit “hu Akbar”, dan sebagainya. Sebuah ungkapan yang memang aneh (karena beliau memang tidak paham bahasa Arab), tetapi mencerminkan, ya itu tadi, spiritualitas yang begitu kuat. Setiap mendengar adzan beliau langsung mengajak siapapun untuk shalat dulu. “Ayo, sudah Allahu Akbar”, katanya.
Yang unik dari beliau ini adalah beliau hingga kini belum bisa membaca Al-Quran, tetapi “hobi”nya adalah menelurusi terjemahan Al-Quran. Dari terjemahan ayat-ayat itulah beliau terinspirasi, tergugah, dan kemudian mendorong semangatnya untuk taat kepada Allah. Di samping itu kendati beliau mempunyai keterbatasan verbal di dalam mengungkapkan ide-idenya. (Beliau termasuk tidak pandai memilih kata-kata), beliau tetap bersemangat menyampaikan ide-ide Islam yang beliau pahami kepada siapapun. Mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan guru, satpam, pesuruh (istilah kerennya OB), para bakul di kantin sekolah, bahkan dengan para mubaligh yang beliau temui. Kita bisa menyebut aktifitas beliau ini sebagai dakwah atau amar ma’ruf nahi mungkar. Tetapi tentu tidak menganggapnya begitu. Beliau melakukan semua itu karena sebuah kesadaran bahwa dimanapun beliau berada harus bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “Kalau ndak begitu percuma kamu jadi sarjana,” kata beliau menirukan pesan kakaknya. Ada yang menentang? Sudah pasti.
Kembali kepada ungkapannya beliau yang saya sampaikan di atas, tentu yang beliau maksud bukanlah bahwa kita tidak boleh kaya. Melainkan apakah kekayaan yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak atau tidak. “Kalau makan pepaya jangan sama kulit dan bijinya,”kata beliau. “Sebarkan bijinya biar menjadi tanaman yang nantinya akan berbuah dan dinikmati banyak orang. Sedang kulitnya bisa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman tadi.” Ya, memang kekayaan acap membuat kita lupa diri. Lupa bahwa bila kita tak pandai mengelola, kekayaan bisa menjadi beban di dunia dan belenggu di akhirat kelak. Betapa tidak? Orang harus menyiapkan dana khusus untuk melakukan pemeliharaan dan pengamanan harta yang dimiliki. Bukankah ini menjadi beban? Ya tidak bila kita bisa mengelolanya dengan baik. Seorang pengusaha di daerah Kroya berprinsip lebih baik memagari perusahaannya dengan nasi dari pada memagarinya dengan kawat berduri. Maksudnya, dia lebih suka membagikan sebagian rejeki yang diperoleh dari usahanya untuk kesejahteraann masyarakat sekitar dari pada untuk membeli kawat berduri untuk pengamanan perusahaannya. Dengan berbagi keberadaannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Maka dia tidak perlu khawatir orang-orang sekitar akan mencuri atau merampok hartanya. Bahkan bukan mustahil ikut menjaganya.
Menjadi belenggu di akhirat? Ya, tentu saja. Bila harta yang kita miliki justru membuat kita lalai dariNya. Kita sibuk mengumpulkan, menghitung-hitung, dan menahan hak para fakir miskin yang ada pada harta itu. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Allah di dalam Surat Al-Humazah.
Semoga kita menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, dengan menjadikan menjadikannya sebagai sarana untuk mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Allahu Akbar!! Allahu a’lam bishshawab.
Posted by Langgeng at 06:43:33 | Permalink | Comments (4)

Thursday, May 10, 2007

Inspirasi

EDI BERAS
 
Beberapa tahun yang lalu seorang teman yang cukup lama “menghilang” tiba-tiba muncul, berkunjung ke kediaman saya. Rupanya selepas SMA dia bekerja di Korea selama beberapa tahun. Dia mengatakan bahwa sepulang dari Korea dia tidak akan berangkat ke sana lagi. “Niat saya pergi ke sana memang untuk mengumpulkan modal dan setelah itu membuka usaha sendiri di sini,” katanya. Dia kini merasa sudah punya cukup modal (tidak hanya berupa uang tetapi juga berbagai pengalaman mengenai dunia usaha) yang bisa dikembangkannya di sini. Kini dia sudah membuka usaha sebagai pedagang beras. “Saya kepingin dikenal sebagai Edi Beras”, katanya. Saya tertawa mendengar obsesinya itu
Belakangan saya baru memahami maksud teman saya itu. Rupanya tambahan kata “Beras” di belakang nama Edi -teman saya itu- adalah semacam pencitraan. Dengan citra sebagai juragan beras, tiap orang yang membutuhkan beras akan menghubunginya. Mungkin ini yang di dalam dunia bisnis disebut sebagai brand. Saya lebih duka menyebutnya sebagai pencitraan diri -meski mungkin ada orang yang tidak suka dengan istilah ini. Tentu saja Edi tidak hanya menyampaikan obsesinya untuk mendapatkan citra sebagai juragan beras. Dia memilih aktfitas - aktifitas tertentu yang mendukung terbentuknya citra tersebut. Dia terus mengembangkan usaha berasnya dengan meluncurkan layanan-layanan baru.
Di luar dunia usaha pencitraan diri juga penting. Bila kita tidak secara khusus membangun citra positif diri bisa-bisa kita malah memiliki citra yang negatif. Kadang citra itu melekat dengan sendirinya karena “konsisten” dengan suatu kebiasaan. Trauble maker misalnya, menjadi citra yang melekat kepada orang yang ngeyelan, protesan, dan “kegemaran”membuat masalahh yang lain. Ketidakhati-hatian kita dalam menerima amanah juga bisa membuat kita dikenal sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Sering berjanji tetapi tidak pernah ditepati.
Karenanya kita perlu berupaya membentuk citra positif diri kita dengan memilah dan memilih aktifitas-aktifitas yang mendukung. Berhati-hati dalam menerima amanah dan berusaha menjaganya akan membuat kita dikenal sebagai orang yang amanah. Selalu menyampaikan ide-ide Islam sebagai solusi persoalan kehidupan dalam setiap kesempatan akan membuat kita dikenal sebagai seorang pengemban dakwah Islam. Suka membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan akan membuat kita dikenal sebagai orang yang care terhadap orang lain. De el el.
Untuk itu mari kita pilah dan pilih aktifitas-aktifitas yang mendukung citra positif diri kita. Jangan sampai citra seperti tidak bisa dipercaya, pemalas, ngeyelan, semaunya sendiri, ga bisa diatur, dan kawan-kawan melekat pada diri kita hanya karena kita tidak berupaya memilih aktifitas-aktifitas yang menghilangkan citra itu. Jangan sampai citra negatif melekat pada diri kita yang pada gilirannya membuat orang ogah untuk berinteraksi dengan kita.
Posted by Langgeng at 10:07:54 | Permalink | Comments (1) »