Inspirasi
EDI BERAS
Beberapa tahun yang lalu seorang teman yang cukup lama “menghilang” tiba-tiba muncul, berkunjung ke kediaman saya. Rupanya selepas SMA dia bekerja di Korea selama beberapa tahun. Dia mengatakan bahwa sepulang dari Korea dia tidak akan berangkat ke sana lagi. “Niat saya pergi ke sana memang untuk mengumpulkan modal dan setelah itu membuka usaha sendiri di sini,” katanya. Dia kini merasa sudah punya cukup modal (tidak hanya berupa uang tetapi juga berbagai pengalaman mengenai dunia usaha) yang bisa dikembangkannya di sini. Kini dia sudah membuka usaha sebagai pedagang beras. “Saya kepingin dikenal sebagai Edi Beras”, katanya. Saya tertawa mendengar obsesinya itu
Belakangan saya baru memahami maksud teman saya itu. Rupanya tambahan kata “Beras” di belakang nama Edi -teman saya itu- adalah semacam pencitraan. Dengan citra sebagai juragan beras, tiap orang yang membutuhkan beras akan menghubunginya. Mungkin ini yang di dalam dunia bisnis disebut sebagai brand. Saya lebih duka menyebutnya sebagai pencitraan diri -meski mungkin ada orang yang tidak suka dengan istilah ini. Tentu saja Edi tidak hanya menyampaikan obsesinya untuk mendapatkan citra sebagai juragan beras. Dia memilih aktfitas - aktifitas tertentu yang mendukung terbentuknya citra tersebut. Dia terus mengembangkan usaha berasnya dengan meluncurkan layanan-layanan baru.
Di luar dunia usaha pencitraan diri juga penting. Bila kita tidak secara khusus membangun citra positif diri bisa-bisa kita malah memiliki citra yang negatif. Kadang citra itu melekat dengan sendirinya karena “konsisten” dengan suatu kebiasaan. Trauble maker misalnya, menjadi citra yang melekat kepada orang yang ngeyelan, protesan, dan “kegemaran”membuat masalahh yang lain. Ketidakhati-hatian kita dalam menerima amanah juga bisa membuat kita dikenal sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Sering berjanji tetapi tidak pernah ditepati.
Karenanya kita perlu berupaya membentuk citra positif diri kita dengan memilah dan memilih aktifitas-aktifitas yang mendukung. Berhati-hati dalam menerima amanah dan berusaha menjaganya akan membuat kita dikenal sebagai orang yang amanah. Selalu menyampaikan ide-ide Islam sebagai solusi persoalan kehidupan dalam setiap kesempatan akan membuat kita dikenal sebagai seorang pengemban dakwah Islam. Suka membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan akan membuat kita dikenal sebagai orang yang care terhadap orang lain. De el el.
Untuk itu mari kita pilah dan pilih aktifitas-aktifitas yang mendukung citra positif diri kita. Jangan sampai citra seperti tidak bisa dipercaya, pemalas, ngeyelan, semaunya sendiri, ga bisa diatur, dan kawan-kawan melekat pada diri kita hanya karena kita tidak berupaya memilih aktifitas-aktifitas yang menghilangkan citra itu. Jangan sampai citra negatif melekat pada diri kita yang pada gilirannya membuat orang ogah untuk berinteraksi dengan kita.
Di luar dunia usaha pencitraan diri juga penting. Bila kita tidak secara khusus membangun citra positif diri bisa-bisa kita malah memiliki citra yang negatif. Kadang citra itu melekat dengan sendirinya karena “konsisten” dengan suatu kebiasaan. Trauble maker misalnya, menjadi citra yang melekat kepada orang yang ngeyelan, protesan, dan “kegemaran”membuat masalahh yang lain. Ketidakhati-hatian kita dalam menerima amanah juga bisa membuat kita dikenal sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Sering berjanji tetapi tidak pernah ditepati.
Karenanya kita perlu berupaya membentuk citra positif diri kita dengan memilah dan memilih aktifitas-aktifitas yang mendukung. Berhati-hati dalam menerima amanah dan berusaha menjaganya akan membuat kita dikenal sebagai orang yang amanah. Selalu menyampaikan ide-ide Islam sebagai solusi persoalan kehidupan dalam setiap kesempatan akan membuat kita dikenal sebagai seorang pengemban dakwah Islam. Suka membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan akan membuat kita dikenal sebagai orang yang care terhadap orang lain. De el el.
Untuk itu mari kita pilah dan pilih aktifitas-aktifitas yang mendukung citra positif diri kita. Jangan sampai citra seperti tidak bisa dipercaya, pemalas, ngeyelan, semaunya sendiri, ga bisa diatur, dan kawan-kawan melekat pada diri kita hanya karena kita tidak berupaya memilih aktifitas-aktifitas yang menghilangkan citra itu. Jangan sampai citra negatif melekat pada diri kita yang pada gilirannya membuat orang ogah untuk berinteraksi dengan kita.
Posted by
at
10:07:54
Wah… Goooood…. Deh… Berkualitas banget neehh… Boleh dong cobain ngirimin artikel buat dimuat di bkog loe…. Asyeeekkk…. deehhh Goood Marsogoood….