<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Fatihatul Umniyah</title>
	<atom:link href="http://langgengbasuki.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langgengbasuki.blog.com</link>
	<description>Menyalakan pijar harapan, di tengah gulita keputusasaan</description>
	<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 10:55:47 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lama Jarak Menonton TV Pengaruhi Fungsi Retina Anak</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2008/07/26/lama-jarak-menonton-tv-pengaruhi-fungsi-retina-anak/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2008/07/26/lama-jarak-menonton-tv-pengaruhi-fungsi-retina-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 10:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: left"><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Hasil penelitian Fakultas Kedokteran UI menunjukkan semakin lama waktu anak menonton televisi (TV) dalam sehari maka semakin rendah fungsi retina matanya</span></i></div>
<div style="text-align: justify">
<p><b><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia"><img src="http://hidayatullah.co.id/images/stories/tv%20ganggu%20anak.jpg" style="float: left" alt="Image" title="Image" border="0" height="97" hspace="6" width="124" />Hidayatullah.com--</span></i></b><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Hasil penelitian yang dipaparkan di</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Jakarta</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">, Kamis, menunjukkan bahwa semakin lama waktu anak menonton televisi (TV) dalam sehari maka semakin rendah fungsi retina matanya.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Menurut hasil penelitian empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia terhadap 106 siswa Sekolah Dasar (SD) usia enam tahun sampai 13 tahun di Jakarta tersebut, jarak menonton TV juga berhubungan dengan fungsi retina anak.</span></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: left"><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Hasil penelitian Fakultas Kedokteran UI menunjukkan semakin lama waktu anak menonton televisi (TV) dalam sehari maka semakin rendah fungsi retina matanya</span></i></div>
<div style="text-align: justify">
<p><b><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia"><img src="http://hidayatullah.co.id/images/stories/tv%20ganggu%20anak.jpg" style="float: left" alt="Image" title="Image" border="0" height="97" hspace="6" width="124" />Hidayatullah.com&#8211;</span></i></b><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Hasil penelitian yang dipaparkan di</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Jakarta</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">, Kamis, menunjukkan bahwa semakin lama waktu anak menonton televisi (TV) dalam sehari maka semakin rendah fungsi retina matanya.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Menurut hasil penelitian empat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia terhadap 106 siswa Sekolah Dasar (SD) usia enam tahun sampai 13 tahun di Jakarta tersebut, jarak menonton TV juga berhubungan dengan fungsi retina anak.</span></p>
</div>
<div>
<p>&#160;</p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">&#8220;Walaupun secara statistik tidak bermakna tapi data hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan semakin jauh jarak tonton semakin baik fungsi retinanya,&#8221; kata Pratiwi Rapih Astuti, salah satu anggota tim peneliti.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Pratiwi menjelaskan, hal itu terjadi karena televisi memancarkan sinar biru yang menurut hasil studi terdahulu menyebabkan degenerasi retina dengan merusak sitokrom oksidase yakni enzim yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses pembentukan energi melalui <i>respirasi</i> (pernafasan) seluler.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Pada mata anak-anak, ia melanjutkan, proses &#8220;<i>yellowing</i>&#8221; (penguningan) pada lensa mata yang dapat meredam dampak sinar biru belum terjadi sehingga sinar biru bisa dengan mudah masuk ke retina&#8211;bagian mata yang berfungsi sebagai penangkap gambar seperti film pada kamera.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">&#8220;Karena itu kami menganjurkan, jarak menonton TV sebaiknya lebih dari empat meter, karena menurut hasil penelitian anak-anak yang jarak nonton TV nya lebih dari empat meter nilai skor fungsi retinanya lebih baik,&#8221; katanya.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Namun demikian, ia menjelaskan, pihaknya belum bisa memberikan gambaran tentang jaran ideal menonton TV berdasarkan ukuran layar TV.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">&#8220;Masih perlu penelitian lebih lanjut untuk itu,&#8221; katanya.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Hasil penelitian Pratiwi bersama ketiga rekannya yakni Wahyu Budi Santosa, Allan Taufiq Rivai, dan Dwi Notosusanto merupakan salah satu hasil penelitian yang dilombakan dalam <i>Liga Medika Sains 2008</i>.</span></p>
<p><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Liga Medika Sains 2008</span></i> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">merupakan bagian dari <i>Liga Medika 2008</i>, ajang kompetisi tahunan antar fakultas kedokteran dan kedokteran gigi di seluruh</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Indonesia</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">. [ant/<a href="http://hidayatullah.co.id/">www.hidayatullah.com</a>]</span></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2008/07/26/lama-jarak-menonton-tv-pengaruhi-fungsi-retina-anak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian Psikolog Kanada: Bersedekah Membuat Bahagia !</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2008/04/01/penelitian-psikolog-kanada-bersedekah-membuat-bahagia/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2008/04/01/penelitian-psikolog-kanada-bersedekah-membuat-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 16:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[motivasi spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: left">
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Penelitian psikolog Kanada terbaru menunjukkan, makin banyak uang yang Anda sumbangkan menolong sesama, maka Anda makin bahagia!<br /></span></i></p>
</div>
<div style="text-align: left">
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><b><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia"><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/zakat.jpg" style="float: left" alt="Image" title="Image" border="0" height="241" hspace="6" width="170" />Hidayatullah.com--</span></i></b><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Semakin besar uang yang dibelanjakan orang untuk menolong sesama, atau dalam rangka memberi hadiah untuk orang lain, maka si dermawan tersebut akan bertambah bahagia. Demikian hasil kajian Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari <span>&#160;</span></span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">University</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">of</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">British Columbia</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">,</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Vancouver</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">, Kanada.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Rincian penelitian ini diterbitkan baru-baru ini di jurnal ilmiah terkemuka dunia, <i>Science</i>, volume 319, tanggal 21 Maret 2008. Dimuat di halaman 1687-1688, karya ilmiah mengejutkan itu terpampang dengan judul “<i>Spending Money on Others Promotes Happiness</i>” (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Memenangkan undian atau kuis berhadiah uang miliaran barangkali merupakan simbol kebahagiaan. Namun, penelitian terkini tersebut menjungkirbalikkan ilmu ekonomi yang selama ini diajarkan turun-temurun tersebut.</span></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: left">
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Penelitian psikolog Kanada terbaru menunjukkan, makin banyak uang yang Anda sumbangkan menolong sesama, maka Anda makin bahagia!<br /></span></i></p>
</div>
<div style="text-align: left">
<div style="text-align: justify"></div>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><b><i><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia"><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/zakat.jpg" style="float: left" alt="Image" title="Image" border="0" height="241" hspace="6" width="170" />Hidayatullah.com&#8211;</span></i></b><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Semakin besar uang yang dibelanjakan orang untuk menolong sesama, atau dalam rangka memberi hadiah untuk orang lain, maka si dermawan tersebut akan bertambah bahagia. Demikian hasil kajian Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari <span>&#160;</span></span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">University</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">of</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">British Columbia</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">,</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Vancouver</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">, Kanada.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Rincian penelitian ini diterbitkan baru-baru ini di jurnal ilmiah terkemuka dunia, <i>Science</i>, volume 319, tanggal 21 Maret 2008. Dimuat di halaman 1687-1688, karya ilmiah mengejutkan itu terpampang dengan judul “<i>Spending Money on Others Promotes Happiness</i>” (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Memenangkan undian atau kuis berhadiah uang miliaran barangkali merupakan simbol kebahagiaan. Namun, penelitian terkini tersebut menjungkirbalikkan ilmu ekonomi yang selama ini diajarkan turun-temurun tersebut.</span></p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Temuan itu menunjukkan, yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita punya, tetapi bagaimana kita membelanjakannya! Orang yang menyedekahkan uangnya untuk membantu mereka yang membutuhkan, atau berbelanja hadiah untuk diberikan kepada orang lain ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Penelitian terkait sekitar 3 tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa kaum kaya sedikit lebih bahagia daripada kaum miskin. Akan tetapi kaitan antara kekayaan dan kebahagiaan tersebut lemah, dan pakar ekonomi berusaha keras mencari penjelasan atas pertanyaan, misalnya, mengapa di Amerika Serikat warganya tidak menjadi lebih bahagia ketika harta benda mereka semakin berlimpah.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Demikian tulis Elsa Youngsteadt yang mengulas hasil penelitian Elizabeth Dunn itu di <i>ScienceNOW Daily News</i>, 20 Maret 2008 dengan judul “<i>The Secret to Happiness</i>? <i>Giving”.</i> (Rahasia Menuju Bahagia? Memberi). Hasil temuan yang sama ini dikupas oleh Brendan Borrell di majalah ilmiah kondang, <i>Nature,</i> di bawah judul “<i>Money buys happiness. Especially if you give it away</i>.” (Uang membeli kebahagiaan. Terutama jika Anda Menghadiahkannya).</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Sang peneliti, pakar psikologi sosial, Elizabeth Dunn, dalam kajiannya ingin menemukan jenis pembelanjaan uang seperti apa yang sebenarnya membuat orang bahagia. Ia dan rekannya meneliti 109 mahasiswa universitasnya. Tidak heran, kebanyakan berkata bahwa mereka lebih bahagia dengan uang 20 dolar ketimbang hanya 5 dolar.</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Para</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">mahasiswa itu menambahkan bahwa mereka akan membelanjakannya untuk diri sendiri ketimbang untuk orang lain.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Di sisi lain, Dunn dan timnya memberi 46 mahasiswa lain dengan amplop berisi uang 5 dolar atau 20 dolar, tapi tidak membiarkan mereka bebas memilih untuk apa uang tersebut akan dibelanjakan. Yang dilakukan peneliti itu adalah menyuruh mereka membelanjakan uang itu untuk hal-hal tertentu.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Menariknya, mahasiswa yang mengeluarkan uang untuk amal kemanusiaan atau membeli hadiah untuk orang lain pada akhirnya lebih bahagia dibandingkan mereka yang membelanjakan untuk kepentingan pribadi, seperti melunasi rekening atau bersenang-senang.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Ternyata fenomena ini tidak berlaku untuk kalangan mahasiswa saja. Kelompok penelitian Dunn juga melakukan jajak pendapat pada 16 karyawan di sebuah perusahaan di</span> <span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Boston</span><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">sebelum dan sesudah mereka mendapatkan bonus dengan beragam besaran. Selain itu Dunn dan rekannya mengumpulkan data tentang gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di seantero Amerika Serikat.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Kesimpulannya sungguh menarik. Di kedua kelompok orang tersebut, kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah absolut bonus atau gaji.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Hasil temuan ini “membenarkan dugaan kami lebih kuat daripada yang berani kami impikan,” kata Dunn. Pengaruh membelanjakan uang demi kebaikan orang lain mungkin mirip olah raga yang memiliki pengaruh seketika maupun dampak jangka panjang, papar Dunn sebagaimana ditulis Elsa Youngsteadt.</span></p>
<div style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Satu kali memberi mungkin menjadikan seseorang bahagia dalam sehari, tapi ketika kebiasaan memberi ini menjadi sebuah cara hidup, dampak kebahagiaan itu bisa menjadi sangat lama, papar Dunn.</span></div>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Yang tak kalah menarik, di akhir tulisan ilmiahnya, sang pakar, Dunn, berharap bahwa temuannya itu suatu saat bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam menganjurkan sikap kedermawanan kepada warganya yang mengabaikan manfaat sikap positif ini. Menurutnya, hal ini dalam rangka menciptakan warga negara yang cenderung memberikan harta mereka untuk kebaikan orang lain, sehingga bertambahnya kekayaan warga beriringan dengan semakin meningkatnya kebahagiaan warga negeri tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Pakar ekonomi Andrew Oswald dari University of Warwick, Inggris, menganjurkan bahwa hasil kajian ini perlu dikukuhkan lebih lanjut dengan memperbesar jumlah orang yang diteliti, hingga mendekati 1000 orang, agar kesimpulannya benar-benar meyakinkan. Terlepas dari itu, Oswald berujar bahwa hasil penelitian Dunn bakal mengejutkan kebanyakan pakar ekonomi. Sebab selama ini mereka beranggapan bahwa membelanjakan uang untuk diri sendiri memberikan kebahagiaan terbesar.</span></p>
<p style="text-align: justify" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">“Ini adalah hasil temuan yang membuat penasaran yang tidak akan Anda temukan di 101 buku pelajaran Ekonomi,” kata Oswald. (cs/<i>ScienceNOW Daily News</i>/<a href="http://hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a>]</span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2008/04/01/penelitian-psikolog-kanada-bersedekah-membuat-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>RENUNGAN AWAL TAHUN</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2008/01/02/renungan-awal-tahun/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2008/01/02/renungan-awal-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 07:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[spiritual motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><font size="3"><font face="Times New Roman"><font size="3"><font face="Times New Roman">Tahun 2007 baru saja berlalu. Berbagai bencana dan penderitaan masih menyisakan kepedihan bagi sebagian besar ummat manusia. <span lang="SV" xml:lang="SV">Sebagian dari saudaa-saudara kita harus melewatkan malam pergantin tahun di tenda-tenda pengungsian dengan dukungan logistik yang sangat terbatas. Sebagian lainnya masih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam air bah yang masih tinggi karena tidak ada tempat mengungsi yang memadai. Ada pula yang masih berada dalam kesedihan yang sangat lantaran sanak keluarganya ada yang belum ditemukan karena ditelan bencana. Sementara nun jauh di sana saudara-saudara kita melewati pergantian tahun di tengah kekacauan negerinya, dicekam rasa takut, dan penderitaan yang diakibatkan oleh kebengisan tirani.<br /></span></font></font></font></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify"><font size="3"><font face="Times New Roman"><font size="3"><font face="Times New Roman">Tahun 2007 baru saja berlalu. Berbagai bencana dan penderitaan masih menyisakan kepedihan bagi sebagian besar ummat manusia. <span lang="SV" xml:lang="SV">Sebagian dari saudaa-saudara kita harus melewatkan malam pergantin tahun di tenda-tenda pengungsian dengan dukungan logistik yang sangat terbatas. Sebagian lainnya masih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam air bah yang masih tinggi karena tidak ada tempat mengungsi yang memadai. Ada pula yang masih berada dalam kesedihan yang sangat lantaran sanak keluarganya ada yang belum ditemukan karena ditelan bencana. Sementara nun jauh di sana saudara-saudara kita melewati pergantian tahun di tengah kekacauan negerinya, dicekam rasa takut, dan penderitaan yang diakibatkan oleh kebengisan tirani.<br /></span></font></font></font></font>
</div>
<div>
<font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Adalah memilukan di tengah penderitaan ummat manusia yang begitu rupa, masih banyak pula orang yang melewatkan pergantian tahun ini dengan pesta pora, hura-hura, tiupan terompet dan percikan kembang api. Seolah bangga dengan apa yang telah dilakukan di tahun lalu yang telah melahirkan begitu banyak derita. Harus diakui berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, dan semburan lumpur panas adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Apakah semua itu layak untuk kita lupakan dengan tiupan terompet dan percikan kembang api?<br /></font></font></span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="FI" xml:lang="FI">Kini kita telah berada di awal tahun 2008. Banyak kalangan berharap di tahun baru ini kehiduoan menjadi lebih baik. Ya, kita memang tetap harus berharap. Karena tanpa harapan apalah artinya hidup. Tapi hendaknya harapan itu tidak berhenti sebagai ucapan, doa, atau sekadar retorika. Harapan tidak akan terwujud tanpa aktifitas nyata. Harapan tidak akan turun begitu saja dari langit seperti turunnya hujan. Betapapun besar optimisme kita, harus diakui jalan menuju kehidupan lebih baik akan masih panjang. Itupun bila kita segera memulai berbenah. Harapan hidup lebih baik hanya akan terwujud bila kita mau untuk berubah.</span> <span lang="SV" xml:lang="SV">Tidak saja sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat dunia. Artinya bukan sekadar kehidupan kita secara individual saja yang harus kita benahi, melainkan sebagai masyarakat yang satu sama lain saling berinteraksi juga harus berubah. Perubahan yang pertama harus kita lakukan adalah perubahan cara berpikir kita atau cara pandang kita terhadap kehidupan ini.<br /></span></font></font></font></font></div>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Allah berfirman<br /></font></font></span> <span style="font-size: 10pt; font-family: '(normal text)'" lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="Times New Roman"><em><br />
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan</em></font><a name="_ftnref1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><font size="3" face="Times New Roman"><em>*</em></font></span></a> <font size="3" face="Times New Roman"><em>yang ada pada diri mereka sendiri.<br /></em></font></span> <font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="SV" xml:lang="SV"><br /></span></font></font></p>
<div style="text-align: justify"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span lang="SV" xml:lang="SV">Selama kita masih memandang kehidupan ini sebagai tempat bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu, maka keadaan bukan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya. Semestinya kita kembali menyadari bahwa kehidupan ini adalah ladang dimana kita menanam kebajikan dengan mentaati perintah-perintahNya dan akhirat adalah tempat kita kembali untuk menuai apa yang telah kita tanam. Atau dengan kata lain sebagaimana firman Allah hidup ini adalah pengabdian kepadaNya. Cara pandang semacam inilah yang adakn mendasari perubahan yang kedua yakni perubahan sikap. Dengan memandang hidup ini adalah pengabdian kepadaNya, maka segala perbuatan kita akan senantiasa menjadi sebuah persembahan kepadaNya.</span> <span lang="FI" xml:lang="FI">Itu artinya kita harus selalu mentaati semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kita tak boleh memperlakukan kehidupan ini termasuk para penghuninya (manusia dan alam) sesuka hati kita. Kita tak boleh mengeksplorasi kekayaan alam ini kecuali dengan memperhitungkan dampaknya begi kehidupan ini.<br /></span></font></font><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font face="Times New Roman">Masih ada harapan selagi kita bersedia hidup dalam tuntunan hidayahNya.<br /></font></font></span></span></font></font></div>
<p><span lang="FI" xml:lang="FI"><font size="3"><font color="#0000FF" face="Times New Roman"><em>Selasa pagi, 1 Januari 2008, 01.17wib<br /></em></font></font></span></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr size="1" width="33%" align="left" />
<div id="ftn1">
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><font size="2" face="Times New Roman">*</font></span></a> <font size="2"><font face="Times New Roman"><span style="font-family: '(normal text)'" lang="SV" xml:lang="SV">Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.</span></font></font></p>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2008/01/02/renungan-awal-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Motivasi Diri</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/11/10/motivasi-diri/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/11/10/motivasi-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 15:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[motivasi spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><font color="#000000"><font size="3"><strong>KITA AKAN MENJADI SEPERTI YANG KITA PIKIRKAN</strong></font></font><font color="#000000"><br /></font></div>
<font color="#000000"><br /></font>
<div style="text-align: justify"><font color="#000000">Ketika masa-masa terakhir duduk di bangku SMA saya mengalami penurunan semangat belajar yang teramat drastis. Saya berfikir, bahwa kalaupun saya semangat belajar</font> <i><font color="#000000">and toh</font></i> <font color="#000000">saya tidak akan bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Orang tua saya tidak akan mampu membiayai kuliah saya. Jangankan membiayai kuliah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya sudah sulit. Kalaupun saya bekerja, pekerjaan apa yang bisa dapatkan dengan ijazah SMA. Penurunan semangat belajar itu berakibat pada jebloknya nilai ujian saya. Padahal saya ngga bodoh-bodoh amat. Buktinya ketika mengerjakan soal ujian fisika saya masih sempat menurunkan rumus sendiri, yang artinya saya memahami konsepnya tetapi saya tidak hafal rumusnya dan itu menghabiskan waktu ujian saya.</font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify"><font color="#000000"><font size="3"><strong>KITA AKAN MENJADI SEPERTI YANG KITA PIKIRKAN</strong></font></font><font color="#000000"><br /></font></div>
<p><font color="#000000"><br /></font></p>
<div style="text-align: justify"><font color="#000000">Ketika masa-masa terakhir duduk di bangku SMA saya mengalami penurunan semangat belajar yang teramat drastis. Saya berfikir, bahwa kalaupun saya semangat belajar</font> <i><font color="#000000">and toh</font></i> <font color="#000000">saya tidak akan bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Orang tua saya tidak akan mampu membiayai kuliah saya. Jangankan membiayai kuliah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya sudah sulit. Kalaupun saya bekerja, pekerjaan apa yang bisa dapatkan dengan ijazah SMA. Penurunan semangat belajar itu berakibat pada jebloknya nilai ujian saya. Padahal saya ngga bodoh-bodoh amat. Buktinya ketika mengerjakan soal ujian fisika saya masih sempat menurunkan rumus sendiri, yang artinya saya memahami konsepnya tetapi saya tidak hafal rumusnya dan itu menghabiskan waktu ujian saya.</font>
</div>
<div>
<font color="#000000"><br /></font><font color="#000000">Ya. Ketika itu saya terbelenggu oleh suatu</font> <i><font color="#000000">mindset</font></i> <font color="#000000">(atau apalah namanya) bahwa saya ini anak orang miskin dan tek perlulah bercita-cita kuliah atau bekerja di tempat yang bergengsi.&#160;Maka&#160;ketika&#160;lulus&#160;pun&#160;saya&#160;akhirnya&#160;ha-nya&#160;menganggur&#160;di&#160;rumah.&#160;Tidak&#160;ada&#160;keberanian&#160;untuk&#160;mengambil&#160;inisiatif&#160;mencari&#160;bea&#160;siswa&#160;atau&#160;mencari&#160;kerja.&#160;</font><font color="#000000"><br /></font> <font color="#000000">Saya baru tersadar ketika saya melihat ada teman saya yang bisa kuliah padahal dia yatim dan ibunya juga miskin. Sementara kedua orang tua saya masih lengkap. Yang lebih mengejutkan saya ternyat teman saya itu mengajak salah seorang adiknya untuk bersekolah di kota tempatnya kuliah dan menanggung&#160;semua&#160;kebutuhan&#160;hidupnya.</font><font color="#000000"><br /></font> <font color="#000000">Ternyata selama ini terkekang oleh mindset saya. Sehingga tidak mencoba berfikir mengenai solusi-solusi yang mungkin bisa saya tempuh. Tidak ada keberanian untuk mencoba keluar dari kungkungan kesulitan yang saya hadapi.</font><font color="#000000"><br /></font><font color="#000000">Agaknya yang saya alami ini juga dialami oleh banyak orang. Ada sementara orang yang tidak mau mencoba membuat sendiri sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukannya hanya karena merasa tidak berbakat. Ada orang yang malas untuk belajar bahasa Inggris atau komputer karena merasa sudah terlalu tua dan mudah lupa.</font> <font color="#000000"><br /></font><font color="#000000">Padahal apa yang kita kira belum lah tentu benar. Kita tidak akan tahu bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu kecuali kita sudah mencobanya. Dulu (sekarang juga masih) para&#160;orang&#160;tua&#160;-terutama&#160;di&#160;desa-desa-&#160;kebanyak-an&#160;mereka&#160;mulai&#160;mendalami&#160;Islam&#160;saat&#160;usia&#160;mereka&#160;beranjak&#160;tua.&#160;Mereka&#160;tidak&#160;hanya&#160;belajar&#160;menghafal&#160;doa-doa&#160;te-tapi&#160;juga&#160;belajar&#160;membaca&#160;Al-Quran.&#160;Padahal&#160;kita&#160;tahun&#160;belajar&#160;membaca&#160;Al-Quran&#160;bukanlah&#160;hal&#160;yang&#160;mudah,&#160;teta-pi&#160;nyatanya&#160;mereka&#160;bisa.&#160;Kenyataan&#160;ini&#160;mematahkan&#160;anggapan&#160;bahwa&#160;orang&#160;yang&#160;sudah&#160;tua&#160;tidak&#160;bisa&#160;belajar.&#160;Me-mang&#160;mungkin&#160;akan&#160;menemui&#160;banyak&#160;kesulitan,&#160;tetapi&#160;bukan&#160;tidak&#160;bisa.</font><font color="#000000"><br /></font><font color="#000000">Jadi kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik kita mesti mengubah mindset (cara berpikir) kita. Selama kita tetap memandang rendah diri kita&#160;atau menganggap diri kita lemah, maka kita tidak akan memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru dan selama itu pula kita tidak akan berubah. Memang merubah mindset bukanlah sesuatu yang semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi memang harus diproses. Membuka diri untuk belajar dan menerima masukan dari orang lain adalah cara yang tepat untuk mengubah cara pandang kita terhadap diri kita. Cara lainnya adalah dengan lebih banyak membaca dan menggali informasi yang saat ini bisa kita peroleh dengan mudah di mana saja.</font><font color="#000000"><br /></font><font color="#000000">Allau a&#8217;lam</font><font color="#000000"><br /></font></div>
<div style="text-align: left">
<div style="text-align: justify"></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/11/10/motivasi-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah yang menginspirasi</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/05/15/kisah-yang-menginspirasi/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/05/15/kisah-yang-menginspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2007 16:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[spiritual motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div align="center"><font size="5">DUIT “HU AKBAR”</font><br /></div>
<br />
<div align="justify">
<div align="justify"><font color="#000000">“Orang-orang itu keliru. Di dalam Al-Quran saya tidak menemukan satu ayatpun yang menyuruh kita kaya. Yang ada kita disuruh beriman dan beramal sholeh. Jadi kalau saya tidak kaya saya tidak gelisah. Tapi kalau saya tidak beriman dan tidak beramal sholeh, baru saya gelisah.” demikian ungkap seorang guru dimana saya bekerja. Beliau ini memang terbilang “aneh” dan sering menyulut kontroversi di kalangan rekan-rekannya karena ide-ide yang dilemparkannya. Namun saya tidak sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari ide – ide yang beliau sampaikan melalui berbagai dialog yang beliau lakukan dengan siapapun –menurut saya memang mencerminkan- spiritualitas beliau yang begitu kuat. Maksud saya, kesadaran beliau akan keberadaan kita sebagai makhluk yang harus mentaati perintah-perintah dan menjauhi laranganNya.<br /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div align="center"><font size="5">DUIT “HU AKBAR”</font></div>
<p></p>
<div align="justify">
<div align="justify"><font color="#000000">“Orang-orang itu keliru. Di dalam Al-Quran saya tidak menemukan satu ayatpun yang menyuruh kita kaya. Yang ada kita disuruh beriman dan beramal sholeh. Jadi kalau saya tidak kaya saya tidak gelisah. Tapi kalau saya tidak beriman dan tidak beramal sholeh, baru saya gelisah.” demikian ungkap seorang guru dimana saya bekerja. Beliau ini memang terbilang “aneh” dan sering menyulut kontroversi di kalangan rekan-rekannya karena ide-ide yang dilemparkannya. Namun saya tidak sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari ide – ide yang beliau sampaikan melalui berbagai dialog yang beliau lakukan dengan siapapun –menurut saya memang mencerminkan- spiritualitas beliau yang begitu kuat. Maksud saya, kesadaran beliau akan keberadaan kita sebagai makhluk yang harus mentaati perintah-perintah dan menjauhi laranganNya.<br /></font>
</div>
<div>
<font color="#000000">Dulu ketika awal-awal bertemu beliau saya sering mendengar beliau mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak menjadikan Allahu Akbar (maksudnya tidak meng-Akbarkan Allah), tetapi menjadikan pekerjaan “hu Akbar”, duit “hu Akbar”, dan sebagainya. Sebuah ungkapan yang memang aneh (karena beliau memang tidak paham bahasa Arab), tetapi mencerminkan, ya itu tadi, spiritualitas yang begitu kuat. Setiap mendengar adzan beliau langsung mengajak siapapun untuk shalat dulu. “Ayo, sudah Allahu Akbar”, katanya.<br />
Yang unik dari beliau ini adalah beliau hingga kini belum bisa membaca Al-Quran, tetapi “hobi”nya adalah menelurusi terjemahan Al-Quran. Dari terjemahan ayat-ayat itulah beliau terinspirasi, tergugah, dan kemudian mendorong semangatnya untuk taat kepada Allah. Di samping itu kendati beliau mempunyai keterbatasan verbal di dalam mengungkapkan ide-idenya. (Beliau termasuk tidak pandai memilih kata-kata), beliau tetap bersemangat menyampaikan ide-ide Islam yang beliau pahami kepada siapapun. Mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan guru, satpam, pesuruh (istilah kerennya OB), para bakul di kantin sekolah, bahkan dengan para mubaligh yang beliau temui. Kita bisa menyebut aktifitas beliau ini sebagai dakwah atau amar ma’ruf nahi mungkar. Tetapi tentu tidak menganggapnya begitu. Beliau melakukan semua itu karena sebuah kesadaran bahwa dimanapun beliau berada harus bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “Kalau ndak begitu percuma kamu jadi sarjana,” kata beliau menirukan pesan kakaknya. Ada yang menentang? Sudah pasti.<br />
Kembali kepada ungkapannya beliau yang saya sampaikan di atas, tentu yang beliau maksud bukanlah bahwa kita tidak boleh kaya. Melainkan apakah kekayaan yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak atau tidak. “Kalau makan pepaya jangan sama kulit dan bijinya,”kata beliau. “Sebarkan bijinya biar menjadi tanaman yang nantinya akan berbuah dan dinikmati banyak orang. Sedang kulitnya bisa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman tadi.” Ya, memang kekayaan acap membuat kita lupa diri. Lupa bahwa bila kita tak pandai mengelola, kekayaan bisa menjadi beban di dunia dan belenggu di akhirat kelak. Betapa tidak? Orang harus menyiapkan dana khusus untuk melakukan pemeliharaan dan pengamanan harta yang dimiliki. Bukankah ini menjadi beban? Ya tidak bila kita bisa mengelolanya dengan baik. Seorang pengusaha di daerah Kroya berprinsip lebih baik memagari perusahaannya dengan nasi dari pada memagarinya dengan kawat berduri. Maksudnya, dia lebih suka membagikan sebagian rejeki yang diperoleh dari usahanya untuk kesejahteraann masyarakat sekitar dari pada untuk membeli kawat berduri untuk pengamanan perusahaannya. Dengan berbagi keberadaannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Maka dia tidak perlu khawatir orang-orang sekitar akan mencuri atau merampok hartanya. Bahkan bukan mustahil ikut menjaganya.<br />
Menjadi belenggu di akhirat? Ya, tentu saja. Bila harta yang kita miliki justru membuat kita lalai dariNya. Kita sibuk mengumpulkan, menghitung-hitung, dan menahan hak para fakir miskin yang ada pada harta itu. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Allah di dalam Surat Al-Humazah.<br />
Semoga kita menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, dengan menjadikan menjadikannya sebagai sarana untuk mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Allahu Akbar!! Allahu a’lam bishshawab.</font></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/05/15/kisah-yang-menginspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/05/10/inspirasi/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/05/10/inspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 17:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: justify">
<div style="text-align: center"><font size="5"><strong>EDI BERAS</strong></font></div>
<div style="text-align: justify">&#160;</div>
<div style="text-align: justify"><font color="#000000">Beberapa tahun yang lalu seorang teman yang cukup lama "menghilang" tiba-tiba muncul, berkunjung ke kediaman saya. Rupanya selepas SMA dia bekerja di Korea selama beberapa tahun. Dia mengatakan bahwa sepulang dari Korea dia tidak akan berangkat ke sana lagi. "Niat saya pergi ke sana memang untuk mengumpulkan modal dan setelah itu membuka usaha sendiri di sini," katanya. Dia kini merasa sudah punya cukup modal (tidak hanya berupa uang tetapi juga berbagai pengalaman mengenai dunia usaha) yang bisa dikembangkannya di sini. Kini dia sudah membuka usaha sebagai pedagang beras. "Saya kepingin dikenal sebagai Edi Beras", katanya. Saya tertawa mendengar obsesinya itu</font><font color="#000000"><br /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify">
<div style="text-align: center"><font size="5"><strong>EDI BERAS</strong></font></div>
<div style="text-align: justify">&#160;</div>
<div style="text-align: justify"><font color="#000000">Beberapa tahun yang lalu seorang teman yang cukup lama &#8220;menghilang&#8221; tiba-tiba muncul, berkunjung ke kediaman saya. Rupanya selepas SMA dia bekerja di Korea selama beberapa tahun. Dia mengatakan bahwa sepulang dari Korea dia tidak akan berangkat ke sana lagi. &#8220;Niat saya pergi ke sana memang untuk mengumpulkan modal dan setelah itu membuka usaha sendiri di sini,&#8221; katanya. Dia kini merasa sudah punya cukup modal (tidak hanya berupa uang tetapi juga berbagai pengalaman mengenai dunia usaha) yang bisa dikembangkannya di sini. Kini dia sudah membuka usaha sebagai pedagang beras. &#8220;Saya kepingin dikenal sebagai Edi Beras&#8221;, katanya. Saya tertawa mendengar obsesinya itu</font><font color="#000000"><br /></font>
</div>
<div>
<font color="#000000">Belakangan saya baru memahami maksud teman saya itu. Rupanya tambahan kata &#8220;Beras&#8221; di belakang nama Edi -teman saya itu- adalah semacam pencitraan. Dengan citra sebagai juragan beras, tiap orang yang membutuhkan beras akan menghubunginya. Mungkin ini yang di dalam dunia bisnis disebut sebagai brand. Saya lebih duka menyebutnya sebagai pencitraan diri -meski mungkin ada orang yang tidak suka dengan istilah ini. Tentu saja Edi tidak hanya menyampaikan obsesinya untuk mendapatkan citra sebagai juragan beras. Dia memilih aktfitas - aktifitas tertentu yang mendukung terbentuknya citra tersebut. Dia terus mengembangkan usaha berasnya dengan meluncurkan layanan-layanan baru.</font><font color="#000000"><br /></font> <font color="#000000">Di luar dunia usaha pencitraan diri juga penting. Bila kita tidak secara khusus membangun citra positif diri bisa-bisa kita malah memiliki citra yang negatif. Kadang citra itu melekat dengan sendirinya karena &#8220;konsisten&#8221; dengan suatu kebiasaan. Trauble maker misalnya, menjadi citra yang melekat kepada orang yang ngeyelan, protesan, dan &#8220;kegemaran&#8221;membuat masalahh yang lain. Ketidakhati-hatian kita dalam menerima amanah juga bisa membuat kita dikenal sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Sering berjanji tetapi tidak pernah ditepati.</font><font color="#000000"><br /></font> <font color="#000000">Karenanya kita perlu berupaya membentuk citra positif diri kita dengan memilah dan memilih aktifitas-aktifitas yang mendukung. Berhati-hati dalam menerima amanah dan berusaha menjaganya akan membuat kita dikenal sebagai orang yang amanah. Selalu menyampaikan ide-ide Islam sebagai solusi persoalan kehidupan dalam setiap kesempatan akan membuat kita dikenal sebagai seorang pengemban dakwah Islam. Suka membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan akan membuat kita dikenal sebagai orang yang care terhadap orang lain. De el el.</font><font color="#000000"><br /></font> <font color="#000000">Untuk itu mari kita pilah dan pilih aktifitas-aktifitas yang mendukung citra positif diri kita. Jangan sampai citra seperti tidak bisa dipercaya, pemalas, ngeyelan, semaunya sendiri, ga bisa diatur, dan kawan-kawan melekat pada diri kita hanya karena kita tidak berupaya memilih aktifitas-aktifitas yang menghilangkan citra itu. Jangan sampai citra negatif melekat pada diri kita yang pada gilirannya membuat orang ogah untuk berinteraksi dengan kita.</font><font color="#000000"><br /></font></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/05/10/inspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Syariat Islam Rahmat bagi Semua</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/26/syariat-islam-rahmat-bagi-semua/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/26/syariat-islam-rahmat-bagi-semua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 17:07:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[&#160;
<h3 align="center"><font size="5">PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM</font></h3>
<h6 align="center"><font size="3" face="book antiqua,palatino"><em>Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi</em></font></h6>
<p><b>Pendahuluan</b></p>
<p align="justify">"<i>Orang miskin dilarang sekolah</i>," demikian jeritan pilu masyarakat saat ini menanggapi mahalnya biaya pendidikan, khususnya biaya pendidikan tinggi. Betapa tidak, pembiayaan sejumlah PTN yang berformat BHMN (Badan Hukum Milik Negara), tak lagi sepenuhnya ditanggung negara. Maka perguruan tinggi BHMN pun harus mencari biaya sendiri. Pembiayaan pendidikan lalu dibebankan kepada mahasiswa. Sebagai contoh, untuk masuk fakultas kedokteran sebuah PTN melalui "jalur khusus", ada mahasiswa yang harus membayar Rp 250 juta bahkan Rp 1 miliar (<a href="http://www.wikimu.com/">www.wikimu.com</a>).</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>&#160;</p>
<h3 align="center"><font size="5">PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM</font></h3>
<h6 align="center"><font size="3" face="book antiqua,palatino"><em>Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi</em></font></h6>
<p><b>Pendahuluan</b></p>
<p align="justify">&#8220;<i>Orang miskin dilarang sekolah</i>,&#8221; demikian jeritan pilu masyarakat saat ini menanggapi mahalnya biaya pendidikan, khususnya biaya pendidikan tinggi. Betapa tidak, pembiayaan sejumlah PTN yang berformat BHMN (Badan Hukum Milik Negara), tak lagi sepenuhnya ditanggung negara. Maka perguruan tinggi BHMN pun harus mencari biaya sendiri. Pembiayaan pendidikan lalu dibebankan kepada mahasiswa. Sebagai contoh, untuk masuk fakultas kedokteran sebuah PTN melalui &#8220;jalur khusus&#8221;, ada mahasiswa yang harus membayar Rp 250 juta bahkan Rp 1 miliar (<a href="http://www.wikimu.com/">www.wikimu.com</a>).</p>
</div>
<div>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Mahalnya biaya pendidikan itu buah dari kebijakan pemerintah yang mengadopsi ideologi penjajah kafir khususnya AS, yakni neoliberalisme. Sebagai salah satu varian kapitalisme &#8211;seperti Keynesian yang mengutamakan intervensi pemerintah&#8211; neoliberalisme justru sebaliknya. Neoliberalisme merupakan bentuk baru liberalisme klasik dengan tema-tema pasar bebas, peran negara yang terbatas, dan individualisme (Adams, 2004).</p>
<p align="justify">Sayang sekali. Pemerintah yang semestinya bertindak bagaikan penggembala, telah berubah fungsi menjadi serigala buas yang tega menghisap darah rakyatnya sendiri. Di tengah kesulitan hidup yang berat karena kemiskinan, pendidikan mahal akibat tunduk pada agenda neoliberalisme global, semakin melengkapi kegagalan pemerintah sekuler saat ini.</p>
<p><b>Pendidikan Tanggung Jawab Negara</b></p>
<p align="justify">Beda dengan neoliberalisme, dalam Islam pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (<i>Usus Al-Ta&#8217;lim Al-Manhaji</i>, hal. 12).</p>
<p align="justify">Mengapa demikian? Sebab negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tak langsung, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman Al-Maliki, 1963).</p>
<p align="justify">Dalilnya adalah As-Sunnah dan Ijma&#8217; Sahabat. Nabi SAW bersabda :</p>
<p align="justify"><i>&#8220;Imam adalah bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas gembalaannya itu.&#8221;</i> (<b>HR Muslim</b>).</p>
<p align="justify">Setelah perang Badar, sebagian tawanan yang tidak sanggup menebus pembebasannya, diharuskan mengajari baca tulis kepada sepuluh anak-anak Madinah sebagai ganti tebusannya (Al-Mubarakfuri, 2005; Karim, 2001).</p>
<p align="justify">Ijma&#8217; Sahabat juga telah terwujud dalam hal wajibnya negara menjamin pembiayaan pendidikan. Khalifah Umar dan Utsman memberikan gaji kepada para guru, muadzin, dan imam sholat jamaah. Khalifah Umar memberikan gaji tersebut dari pendapatan negara (Baitul Mal) yang berasal dari <i>jizyah, kharaj</i> (pajak tanah), dan <i>usyur</i> (pungutan atas harta non muslim yang melintasi tapal batas negara) (Rahman, 1995; Azmi, 2002; Muhammad, 2002).</p>
<p align="justify">Sejarah Islam pun telah mencatat kebijakan para khalifah yang menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarananya seperti perpustakaan. Setiap perguruan tinggi itu dilengkapi dengan &#8220;iwan&#8221; (auditorium), asrama mahasiswa, juga perumahan dosen dan ulama. Selain itu, perguruan tinggi tersebut juga dilengkapi taman rekreasi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan (Khalid, 1994).</p>
<p align="justify">Di antara perguruan tinggi terpenting adalah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Al-Mustanshiriyah di Baghdad, Madrasah Al-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Madrasah Mustanshiriyah didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir abad VI H dengan fasilitas yang lengkap. Selain memiliki auditorium dan perpustakaan, lembaga ini juga dilengkapi pemandian dan rumah sakit yang dokternya siap di tempat (Khalid, 1994).</p>
<p align="justify">Pada era Khilafah Utsmaniyah, Sultan [Khalifah] Muhammad Al-Fatih (w. 1481 M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstantinopel (Istanbul) Sultan membangun delapan sekolah. Di sekolah-sekolah ini dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu (Shalabi, 2004).</p>
<p align="justify">Namun perlu dicatat, meski pembiayaan pendidikan adalah tanggung jawab negara, Islam tidak melarang inisiatif rakyatnya khususnya mereka yang kaya untuk berperan serta dalam pendidikan. Melalui wakaf yang disyariatkan, sejarah mencatat banyak orang kaya yang membangun sekolah dan universitas. Hampir di setiap kota besar, seperti Damaskus, Baghdad, Kairo, Asfahan, dan lain-lain terdapat lembaga pendidikan dan perpustakaan yang berasal dari wakaf (Qahaf, 2005).</p>
<p align="justify">Di antara wakaf ini ada yang bersifat khusus, yakni untuk kegiatan tertentu atau orang tertentu. Seperti wakaf untuk ilmuwan hadits, wakaf khusus untuk dokter, wakaf khusus untuk riset obat-obatan, wakaf khusus guru anak-anak, wakaf khusus untuk pendalaman fikih dan ilmu-ilmu Al-Qur`an. Bahkan sejarah mencatat ada wakaf khusus untuk Syaikh Al-Azhar atau fasilitas kendaraannya. Selain itu, wakaf juga diberikan dalam bentuk asrama pelajar dan mahasiswa, alat-alat tulis, buku pegangan, termasuk beasiswa dan biaya pendidikan (Qahaf, 2005).</p>
<p align="justify">Walhasil, dengan Islam rakyat akan memperoleh pendidikan formal yang gratis dari negara. Sedangkan melalui inisiatif wakaf dari anggota masyarakat yang kaya, rakyat akan memperoleh pendidikan non formal yang juga gratis atau paling tidak murah bagi rakyat.</p>
<p align="justify"><b>Pembiayaan Pendidikan Dalam Khilafah</b></p>
<p align="justify">Sistem pendidikan formal yang diselenggarakan negara Khilafah memperoleh sumber pembiayaan sepenuhnya dari negara (Baitul Mal). Dalam sejarah, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sumber pembiayaan untuk kemaslahatan umum (termasuk pendidikan), berasal dari <i>jizyah, kharaj,</i> dan <i>usyur</i> (Muhammad, 2002).</p>
<p align="justify">Terdapat 2 (dua) sumber pendapatan Baitul Mal yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu : (1) pos fai` dan kharaj &#8211;yang merupakan kepemilikan negara&#8211; seperti <i>ghanimah, khumus</i> (seperlima harta rampasan perang)<i>, jizyah</i>, dan <i>dharibah</i> (pajak); (2) pos kepemilikan umum, seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan <i>hima</i> (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan). Sedangkan pendapatan dari pos zakat, tidak dapat digunakan untuk pembiayaan pendidikan, karena zakat mempunyai peruntukannya sendiri, yaitu delapan golongan mustahik zakat (QS 9 : 60). (Zallum, 1983; An-Nabhani, 1990).</p>
<p align="justify">Jika dua sumber pendapatan itu ternyata tidak mencukupi, dan dikhawatirkan akan timbul efek negatif (<i>dharar</i>) jika terjadi penundaan pembiayaannya, maka negara wajib mencukupinya dengan segera dengan cara berhutang (<i>qardh</i>). Hutang ini kemudian dilunasi oleh negara dengan dana dari <i>dharibah</i> (pajak) yang dipungut dari kaum muslimin (Al-Maliki,1963).</p>
<p align="justify">Biaya pendidikan dari Baitul Mal itu secara garis besar dibelanjakan untuk 2 (dua) kepentingan. <i>Pertama</i>, untuk membayar gaji segala pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan, seperti guru, dosen, karyawan, dan lain-lain. <i>Kedua</i>, untuk membiayai segala macam sarana dan prasana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku pegangan, dan sebagainya. (An-Nabhani, 1990).</p>
<p align="justify"><b>Potensi Sumber Pembiayaan Pendidikan Saat ini</b></p>
<p align="justify">Telah dibahas sebelumnya ketentuan normatif mengenai sumber pembiayaan pendidikan gratis dalam Khilafah. Pertanyaannya adalah, mampukah kita menggratiskan pendidikan sekarang dengan potensi sumber-sumber pembiayaan saat ini?</p>
<p align="justify">Dalam APBN 2007, anggaran untuk sektor pendidikan adalah sebesar Rp 90,10 triliun atau 11,8 persen dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun. (www.tempointeraktif.com, 8 Januari 2007). Angka Rp 90,10 triliun itu belum termasuk pengeluaran untuk gaji guru yang menjadi bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang pendidikan, serta anggaran kedinasan.</p>
<p align="justify">Misalkan kita ambil angka Rp 90,1 triliun sebagai patokan anggaran pendidikan tahun 2007 yang harus dipenuhi. Dengan melihat potensi kepemilikan umum (sumber daya alam) yang ada di Indonesia, dana sebesar Rp 90,1 triliun akan dapat dipenuhi, asalkan penguasa mau menjalankan Islam, bukan neoliberalisme. Berikut perhitungannya yang diolah dari berbagai sumber :</p>
<ul>
<li>
<div align="justify">1. Potensi hasil hutan berupa kayu [data 2007] sebesar US$ 2.5 miliar (sekitar Rp 25 triliun).</div>
</li>
<li>
<div align="justify">2. Potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar [data 1999] sebesar US$ 1.5 miliar (sekitar Rp 15 triliun).</div>
</li>
<li>
<div align="justify">3. Potensi pendapatan emas di Papua (PT. Freeport) [data 2005] sebesar US$ 4,2 miliar (sekitar Rp 40 triliun)</div>
</li>
<li>
<div align="justify">4. Potensi pendapatan migas Blok Cepu per tahun sebesar US$ 700 juta - US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 10 triliun)</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Dari empat potensi di atas saja setidak-tidaknya sudah diperoleh total Rp 90 triliun. Kalau masih kurang, jalankan penegakan hukum dengan tegas, <i>insya Allah</i> akan diperoleh tambahan sekitar Rp 54 triliun. Sepanjang tahun 2006, ICW (<i>Indonesia Corruption Watch</i>) mencatat angka korupsi Indonesia sebesar Rp 14,4 triliun. Nilai kekayaan hutan Indonesia yang hilang akibat <i>illegal logging</i> tahun 2006 sebesar Rp 40 triliun.</p>
<p align="justify"><strong>Penutup&#160;</strong></p>
<p align="justify">Jadi, mewujudkan pendidikan gratis di Indonesia sebenarnya sangatlah dimungkinkan. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan tidak adanya potensi pembiayaan, melainkan ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola negara. Pendidikan mahal bukan disebabkan tidak adanya sumber pembiayaan, melainkan disebabkan kesalahan pemerintah yang bobrok dan korup.</p>
<p align="justify">Pemerintah seperti ini jelas tidak ada gunanya. Karena yang dibutuhkan rakyat adalah pemerintah yang amanah, yang setia pada Islam dan umatnya. Bukan pemerintah yang tidak becus, yang hanya puas menjadi komprador asing dengan menjalankan neoliberalisme yang kafir. [ ]</p>
<p align="justify"><b>DAFTAR PUSTAKA</b></p>
<p align="justify">Al-Maliki, Abdurrahman, <i>As-Siyasah Al-Iqtishadiyah Al-Mutsla</i>, (Hizbut Tahrir : t.p.), 1963</p>
<p align="justify">Adams, Ian, <i>Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today),</i> Penerjemah Ali Noerzaman, (Yogyakarta : Penerbit Qalam), 2004</p>
<p align="justify">Ash-Shalabi, Ali Muhammad, <i>Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Ad-Dawlah Al-Utsmaniyah &#8216;Awamil al-Nuhudh wa Asbab as-Suquth)</i>, Penerjemah Samson Rahman, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar), 2004</p>
<p align="justify">An-Nabhani, Taqiyuddin, <i>An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam</i>, (Beirut : Darul Ummah), 1990</p>
<p align="justify">Azmi, Sabahuddin, <i>Islamic Economics</i>, (New Delhi : Goodword Books), 2002</p>
<p align="justify">Karim, Adiwarman (Ed.), <i>Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam,</i> (Jakarta : IIIT), 2001</p>
<p align="justify">Khalid, Abdurrahman Muhammad, <i>Soal Jawab Seputar Gerakan Islam</i>, (Bogor : Pustaka Thariqul Izzah), 1994</p>
<p align="justify">Muhammad, Quthb Ibrahim, <i>Kebijakan Ekonomi Umar bin Khaththab (As-Siayasah Al-Maliyah Li &#8216;Umar bin Khaththab)</i>, Penerjemah Ahmad Syarifuddin Shaleh, (Jakarta : ustaka Azzam), 2002</p>
<p align="justify">Qahaf, Mundzir, <i>Manajemen Wakaf Produktif (Al-Waqf Al-Islami Tathawwuruhu Idaratuhu Tanmiyatuhu),</i> Penerjemah Muhyiddin Mas Rida, (Jakarta : Khalifa), 2005</p>
<p align="justify">Rahman, Afzalur, <i>Doktrin Ekonomi Islam (Economics Doctrines of Islam)</i>, Jilid 1, Penerjemah Soeroyo &amp; Nastangin, (Yogyakarta : PT. Dhana Bhakti Wakaf), 1995</p>
<p align="justify">Yurino, Ari, <i>Privatisasi Dunia Pendidikan: Hancurnya Pendidikan Bangsa</i>, <a href="http://www.wikimu.com/News/">http://www.wikimu.com/News/</a> DisplayNews.aspx?id=1533&amp;post=3</p>
<p align="justify">Zallum, Abdul Qadim, <i>Al-Amwal fi Daulah Al-Khilafah,</i> (Beirut : Darul &#8216;Ilmi lil Malayin), 1983</p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Sumber : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=365&amp;Itemid=47</font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">&#160;</font></font></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/26/syariat-islam-rahmat-bagi-semua/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Retrospeksi</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/25/retrospeksi/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/25/retrospeksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 16:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[fatihatul umniyah]]></category>

		<category><![CDATA[menjaga amanah]]></category>

		<category><![CDATA[saling memotivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong><font size="5">MEMELIHARA AMANAH</font></strong></p>
<p style="text-align: justify">Suatu ketika saya diamanahi untuk membuat dekorasi berupa tulisan dari kertas yang dipotong kemudian ditempel pada sebuah back drop dari kain yang direntangkan. Biasanya setelah huruf-huruf dari kertas itu siap, saya merentangkan kain back drop dulu ke dinding. Baru setelah itu saya merentangkan seutas tali secara mendatar sebagai patokan dalam menempelkan huruf-huruf tadi.</p>
<p style="text-align: justify">Hari itu saya merasakah keletihan yang sangat karena berbagai pekerjaan lain yang harus saya selesaikan sebelumnya. Saya mencoba menggunakan cara lain dalam memasang tulisan-tulisan kertas tersebut. Saya pikir cara ini lebih mudah dan hemat energi. Sebelum kain back drop saya rentangkan terlebih dahulu saya gelar di lantai dan saya pasangi tulisan kertas yang sudah saya siapkan. Dengan cara ini saya berharap saya tidak perlu berlulang-ulang jongkok berdiri untuk memasang kertas. Setelah kertas-kertas itu saya tempel barulah saya memasang back drop tersebut. Ternyata tulisannya jadi terlalu rendah dan agak naik turun. Namun karena sudah letih saya mencoba "memaafkan" hal tersebut. Saya langsung berkemas dan pulang.</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align: center"><strong><font size="5">MEMELIHARA AMANAH</font></strong></p>
<p style="text-align: justify">Suatu ketika saya diamanahi untuk membuat dekorasi berupa tulisan dari kertas yang dipotong kemudian ditempel pada sebuah back drop dari kain yang direntangkan. Biasanya setelah huruf-huruf dari kertas itu siap, saya merentangkan kain back drop dulu ke dinding. Baru setelah itu saya merentangkan seutas tali secara mendatar sebagai patokan dalam menempelkan huruf-huruf tadi.</p>
<p style="text-align: justify">Hari itu saya merasakah keletihan yang sangat karena berbagai pekerjaan lain yang harus saya selesaikan sebelumnya. Saya mencoba menggunakan cara lain dalam memasang tulisan-tulisan kertas tersebut. Saya pikir cara ini lebih mudah dan hemat energi. Sebelum kain back drop saya rentangkan terlebih dahulu saya gelar di lantai dan saya pasangi tulisan kertas yang sudah saya siapkan. Dengan cara ini saya berharap saya tidak perlu berlulang-ulang jongkok berdiri untuk memasang kertas. Setelah kertas-kertas itu saya tempel barulah saya memasang back drop tersebut. Ternyata tulisannya jadi terlalu rendah dan agak naik turun. Namun karena sudah letih saya mencoba &#8220;memaafkan&#8221; hal tersebut. Saya langsung berkemas dan pulang.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify">Malam harinya orang yang mengamanahi saya datang ke rumah dan menyampaikan komplain. Beliau mengatakan bahwa tulisannya terlalu rendah dan naik turun. Bahkan beliau sudah menyiapkan tulisan yang baru dan meminta saya bersama-sama dengannya menempelkan tulisan yang baru malam itu juga.</p>
<p style="text-align: justify">Sejak peristiwa itu saya tidak pernah diamanahi untuk melakukan pekerjaan serupa kecuali beliau selalu mendapingi saya. Hal itu dilakukannya selama 1 tahun, hingga akhirnya saya &#8220;dilepas&#8221; untuk mengerjakan sendiri lagi.</p>
<p style="text-align: justify">Pengalaman ini memberi pelajaran kepada saya, betapa beratnya menjaga amanah / kepercayaan. Sekali saja kita tidak menjaga amanah, orang akan sulit percaya kepada kita. Tak peduli apakah kita sengaja melakukannya atau karena kita benar - benar lalai.</p>
<p style="text-align: justify">Secara tidak sadar kita acapkali mematahkan semangat atau harapan orang -orang di sekitar kita dengan kelalaian kita. Sebagai contoh, kita telah bersepakat dengan teman-teman untuk bertemu di suatu tempat dan melakukan suatu agenda bersama. Ternyata kita lupa dengan kesepakatan tersebut dan sibuk dengan agenda lain. Atau kita hadir di tempat yang disepakati tetapi kita tidak bisa melaksanakan agenda tersebut karena kelelahan. Sementara itu teman-teman yang lain sudah hadir di tempat dan sudah siap melaksanakan agenda tersebut meski juga dalam kondisi letih. Mereka <i>bela-belain</i> datang untuk memenuhi kesepakatan itu karena menganggap agenda itu teramat penting. Maka hal yang bakal terjadi sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan kemudian patah semangat. Kepercayaan kepada kita pun luntur. Dan bukan hal yang mudah untuk membangun kepercayaan itu kembali. Dalam peristiwa yang saya alami saya masih beruntung bisa mendapatkan kepercayaan itu kembali meski harus membangunnya selama 1 tahun. Tidak sedikit orang yang mengalami hal serupa dan kehilangan kepercayaan selamanya. Bahkan ketika&#160;kita benar-benar ingin untuk tidak mengulanginya. &#8220;Halah, paling-paling juga ngga jadi kaya yang dulu-dulu,&#8221; begitu keluh orang-orang yang terlanjur tidak percaya.</p>
<p style="text-align: justify">Karenanya menjadi penting bagi kita untuk memikirkan masak-masak manakala mau menerima suatu amanah atau hendak mengadakan suatu janji. Kelalain kita - meski tidak disengaja- bisa membuat orang tidak <i>lagi berharap</i> kepada kita. Yang terlebih penting dari semua itu memelihara amanah adalah perintah Allah SWT. Melaksanakannya berati mentaati perintah Allah dan melalalaikannya berarti melalaikan perintah Allah SWT. Allahua&#8217;lam bishshawwab.(LB)</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/25/retrospeksi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Fatihatul Umniyah?</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/16/mengapa-fatihatul-umniyah/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/16/mengapa-fatihatul-umniyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 20:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[&#160;
<p align="justify">Fatihatul Umniyah adalah nama tengah dan belakang anak pertama saya. Artinya kurang lebih <em>pembuka harapan</em>. Tapi bukan semata-mata karena nama anak saya, Fatihatul Umniyah saja jadikan sebagai nama blog saya. Tetapi karena obsesi untuk membuka / menumbuhkan harapan sesama lah yang lebih mendorong saya menggunakan nama itu. Saya ingin menggunakan blog saya ini sebagai media untuk saling menumbuhkan harapan.</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>&#160;</p>
<p align="justify">Fatihatul Umniyah adalah nama tengah dan belakang anak pertama saya. Artinya kurang lebih <em>pembuka harapan</em>. Tapi bukan semata-mata karena nama anak saya, Fatihatul Umniyah saja jadikan sebagai nama blog saya. Tetapi karena obsesi untuk membuka / menumbuhkan harapan sesama lah yang lebih mendorong saya menggunakan nama itu. Saya ingin menggunakan blog saya ini sebagai media untuk saling menumbuhkan harapan.</p>
</div>
<div>
<p align="justify">Sebagaimana kita ketahui di tengah kehidupan yang serba sulit ini, tak jarang himpitan-himpitan yang mendera membuat masyarakat putus asa. tidak sedikit masyarakat akhirnya memilih cara-cara yang tidak cerdas untuk sekedar keluar dari kesulitan yang mengimpit. Yang lebih menyedihkan lagi adalah lebih banyak lagi masyarakat yang putus asa untuk melakukan kebajikan. Seolah-olah kebajikan / amal shalih adalah sebuah kesia-siaan belaka. Akibatnya, kebanyakan masyarakat tidak lagi mempertimbangkan halal haram dalam mengambil tindakan. Ini adalah alamat buruk, karena ketika halal haram sudah tidak lagi dihiraukan manusia turun derajatnya dari sebaik-baik ciptaan menjadi berada dalam derajat yang paling hina.</p>
<p align="justify">Di lain pihak, dorongan untuk melakukan keabajikan -dalam artian selalu mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya- tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran atau motivasi individual semata. Ada kalanya seseorang merasa jenuh dan letih menghadapi persoalan kehidupan. Saat seperti bukan tak mungkin semangat yang tadinya membara perlahan meredup dan padam. Dalam kondisi seperti ini diperlukan teman-teman yang bisa membesarkan hati dn menumbuhkan kembali harapan. Bisa memompa kembali semangat untuk meraih kemuliaan.</p>
<p align="justify">Untuk itu saya mengundang teman-teman untuk ikut mengirimkan tulisan yang berkaitan dengan motivasi Islami, untuk mendorong semangat -atau lebih tepatnya menumbuhkan harapan- teman-teman yang lain untuk tetap beramal shalih. Kirimkan tulisan teman-teman ke <a href="mailto:langgeng.basuki@plasa.com">langgeng.basuki@plasa.com</a>. Saya tunggu tulisan teman -teman.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/16/mengapa-fatihatul-umniyah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Retrospeksi</title>
		<link>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/16/retrospeksi/</link>
		<comments>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/16/retrospeksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 18:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Langgeng</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[motivasi spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[&#160;
<p align="center"><font size="4" face="georgia,palatino"><strong>BERSAMA SIAPA ANDA MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR WAKTU,</strong></font></p>
<p align="center"><font size="4" face="georgia,palatino"><strong>MAKA AKAN MENJADI SEPERTI MEREKALAH ANDA</strong></font></p>
<p>Cilacap (15 April 2007 - 03.35 wib)</p>
<p align="justify">Selepas SMA saya sempat menganggur selama 2 tahun. Saya habiskan waktu saya untuk melakukan hal - hal positif yang saya bisa. Membaca buku dan majalah, melakukan ibadah sunah, mengunjungi teman, bahkan membuat kliping artikel yang berkaitan dengan Islam. Begitu saya bekerja, saya bertemu dengan orang - orang yang lebih terbiasa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Kendati tidak 100% terpengaruh tetapi minimal ibadah sunah saya sudah mulai berkurang, dan saya mulai ikut - ikutan doyan nonton. Kalau tadinya saya aktif shalat sunnah rawatib, saat itu saya tinggal melaksanakan yang wajib saja.</p>
<p align="justify">Keadaan kembali berubah ketika saya pindah kerja di tempat yang baru. Di situ saya ketemu seorang teman kerja yang aktif di Jama'ah Tabligh. Karena pertemuan yang rutin akhirnya saya pun terbawa lebih giat lagi beribadah dan menambah tsqaqfah Islam saya, meski saya tidak ikut aktif di organisasinya.</p>
<p align="justify">Tatkala saya bertemu kembali dengan teman lama yang ternyata telah aktif di suatu gerakan dakwah, dan dia pulang untuk mengembangkannya di tempat saya tinggal, saya pun menjadi begitu bersemangat untuk ikut ambil bagian. Obrolan - obrolan kami tentang Islam seperti menyuntikan semangat baru kepada saya.</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>&#160;</p>
<p align="center"><font size="4" face="georgia,palatino"><strong>BERSAMA SIAPA ANDA MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR WAKTU,</strong></font></p>
<p align="center"><font size="4" face="georgia,palatino"><strong>MAKA AKAN MENJADI SEPERTI MEREKALAH ANDA</strong></font></p>
<p>Cilacap (15 April 2007 - 03.35 wib)</p>
<p align="justify">Selepas SMA saya sempat menganggur selama 2 tahun. Saya habiskan waktu saya untuk melakukan hal - hal positif yang saya bisa. Membaca buku dan majalah, melakukan ibadah sunah, mengunjungi teman, bahkan membuat kliping artikel yang berkaitan dengan Islam. Begitu saya bekerja, saya bertemu dengan orang - orang yang lebih terbiasa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Kendati tidak 100% terpengaruh tetapi minimal ibadah sunah saya sudah mulai berkurang, dan saya mulai ikut - ikutan doyan nonton. Kalau tadinya saya aktif shalat sunnah rawatib, saat itu saya tinggal melaksanakan yang wajib saja.</p>
<p align="justify">Keadaan kembali berubah ketika saya pindah kerja di tempat yang baru. Di situ saya ketemu seorang teman kerja yang aktif di Jama&#8217;ah Tabligh. Karena pertemuan yang rutin akhirnya saya pun terbawa lebih giat lagi beribadah dan menambah tsqaqfah Islam saya, meski saya tidak ikut aktif di organisasinya.</p>
<p align="justify">Tatkala saya bertemu kembali dengan teman lama yang ternyata telah aktif di suatu gerakan dakwah, dan dia pulang untuk mengembangkannya di tempat saya tinggal, saya pun menjadi begitu bersemangat untuk ikut ambil bagian. Obrolan - obrolan kami tentang Islam seperti menyuntikan semangat baru kepada saya.</p>
</div>
<div>
<p align="justify">Suatu ketika saya berada pada kondisi yang jenuh, emosional, dan mudah mengeluh. Ternyata setelah saya selidiki karena lingkungan kerja saya pun penuh dengan orang - orang sibuk yang menimbun begitu banyak kekecewaan. Sehingga akhirnya keluar keluhan - keluhan dan sadar atau tidak saya pun mengalami hal serupa meski dengan intesitas berbeda. Muncul rasa malas dan tak bersemangat.</p>
<p align="justify">Penggalan - penggalan pengalaman saya di atas adalah sebuah pelajaran. Betapa pengaruh lingkungan sedemikian kuat. Kalaupun pola fikir kita tidak terpengaruh dengan lingkungan kita mungkin pola sikap kita yang akat terpengaruh. Bila kita biasa menghabiskan waktu kita untuk <i>ngobrol</i> dan <i>nggosip</i> maka kita akan sibuk memikirkan hal - hal <i>remeh temeh</i> yang bukan urusan kita atau tidak ada manfaatnya bagi kita. Bila kita lebih banyak menghabiskan wkatu kita dengan orang-orang yang berdiskusi tentang agama, semangat hidup, dan perjuangan, maka kitapun akan menjadi orang yang bersemangat dan memiliki daya juang. Karenanya bila kita ingin menjadi orang yang shalih bergaulah dan habiskan waktu yang kita miliki bersama orang - orang yang shalih. Bila kita ingin senantiasa berpikir dan bersikap positif perbanyaklah bergaul dengan orang yang senantiasa berpikir dan bersikap positif. Kalau kita ingin menjadi usahawan yang sukses bergaulah dengan para usahawah yang sukses.</p>
<p align="justify">Anda tentu - di dalam lubuk hati yang terdalam - mengakui bahwa menyontek adalah perbuatan yang tidak terpuji. Namun karena pengaruh lingkungan bisa saja anda terbawa dan ikut - ikutan teman - teman menyontek ketika ulangan atau ujian. Karenanya, bila anda ingin meraih hasil belajar yang baik tanpa menyontek, bergaulah dengan para juara kelas, yang memang mereka meraih hasil belajar dengan belajar keras. Setidaknya dengan bergaul denga mereka kita jadi tahu trik - trik apa yang mereka lakukan untuk menguasai materi pelajaran.</p>
<p align="justify">&#8220;Barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi ia akan terkena wanginya. Barang siap bergaul dengan pandai besi dia akan terkena asapnya.&#8221; (Al-Hadits) (LB)</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langgengbasuki.blog.com/2007/04/16/retrospeksi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
