Tuesday, April 1, 2008

Penelitian Psikolog Kanada: Bersedekah Membuat Bahagia !

Penelitian psikolog Kanada terbaru menunjukkan, makin banyak uang yang Anda sumbangkan menolong sesama, maka Anda makin bahagia!

ImageHidayatullah.com–Semakin besar uang yang dibelanjakan orang untuk menolong sesama, atau dalam rangka memberi hadiah untuk orang lain, maka si dermawan tersebut akan bertambah bahagia. Demikian hasil kajian Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari  University of British Columbia, Vancouver, Kanada.

Rincian penelitian ini diterbitkan baru-baru ini di jurnal ilmiah terkemuka dunia, Science, volume 319, tanggal 21 Maret 2008. Dimuat di halaman 1687-1688, karya ilmiah mengejutkan itu terpampang dengan judul “Spending Money on Others Promotes Happiness” (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).

Memenangkan undian atau kuis berhadiah uang miliaran barangkali merupakan simbol kebahagiaan. Namun, penelitian terkini tersebut menjungkirbalikkan ilmu ekonomi yang selama ini diajarkan turun-temurun tersebut.

Temuan itu menunjukkan, yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita punya, tetapi bagaimana kita membelanjakannya! Orang yang menyedekahkan uangnya untuk membantu mereka yang membutuhkan, atau berbelanja hadiah untuk diberikan kepada orang lain ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri.

Penelitian terkait sekitar 3 tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa kaum kaya sedikit lebih bahagia daripada kaum miskin. Akan tetapi kaitan antara kekayaan dan kebahagiaan tersebut lemah, dan pakar ekonomi berusaha keras mencari penjelasan atas pertanyaan, misalnya, mengapa di Amerika Serikat warganya tidak menjadi lebih bahagia ketika harta benda mereka semakin berlimpah.

Demikian tulis Elsa Youngsteadt yang mengulas hasil penelitian Elizabeth Dunn itu di ScienceNOW Daily News, 20 Maret 2008 dengan judul “The Secret to Happiness? Giving”. (Rahasia Menuju Bahagia? Memberi). Hasil temuan yang sama ini dikupas oleh Brendan Borrell di majalah ilmiah kondang, Nature, di bawah judul “Money buys happiness. Especially if you give it away.” (Uang membeli kebahagiaan. Terutama jika Anda Menghadiahkannya).

Sang peneliti, pakar psikologi sosial, Elizabeth Dunn, dalam kajiannya ingin menemukan jenis pembelanjaan uang seperti apa yang sebenarnya membuat orang bahagia. Ia dan rekannya meneliti 109 mahasiswa universitasnya. Tidak heran, kebanyakan berkata bahwa mereka lebih bahagia dengan uang 20 dolar ketimbang hanya 5 dolar. Para mahasiswa itu menambahkan bahwa mereka akan membelanjakannya untuk diri sendiri ketimbang untuk orang lain.

Di sisi lain, Dunn dan timnya memberi 46 mahasiswa lain dengan amplop berisi uang 5 dolar atau 20 dolar, tapi tidak membiarkan mereka bebas memilih untuk apa uang tersebut akan dibelanjakan. Yang dilakukan peneliti itu adalah menyuruh mereka membelanjakan uang itu untuk hal-hal tertentu.

Menariknya, mahasiswa yang mengeluarkan uang untuk amal kemanusiaan atau membeli hadiah untuk orang lain pada akhirnya lebih bahagia dibandingkan mereka yang membelanjakan untuk kepentingan pribadi, seperti melunasi rekening atau bersenang-senang.

Ternyata fenomena ini tidak berlaku untuk kalangan mahasiswa saja. Kelompok penelitian Dunn juga melakukan jajak pendapat pada 16 karyawan di sebuah perusahaan di Bostonsebelum dan sesudah mereka mendapatkan bonus dengan beragam besaran. Selain itu Dunn dan rekannya mengumpulkan data tentang gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di seantero Amerika Serikat.

Kesimpulannya sungguh menarik. Di kedua kelompok orang tersebut, kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah absolut bonus atau gaji.

Hasil temuan ini “membenarkan dugaan kami lebih kuat daripada yang berani kami impikan,” kata Dunn. Pengaruh membelanjakan uang demi kebaikan orang lain mungkin mirip olah raga yang memiliki pengaruh seketika maupun dampak jangka panjang, papar Dunn sebagaimana ditulis Elsa Youngsteadt.

Satu kali memberi mungkin menjadikan seseorang bahagia dalam sehari, tapi ketika kebiasaan memberi ini menjadi sebuah cara hidup, dampak kebahagiaan itu bisa menjadi sangat lama, papar Dunn.

Yang tak kalah menarik, di akhir tulisan ilmiahnya, sang pakar, Dunn, berharap bahwa temuannya itu suatu saat bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam menganjurkan sikap kedermawanan kepada warganya yang mengabaikan manfaat sikap positif ini. Menurutnya, hal ini dalam rangka menciptakan warga negara yang cenderung memberikan harta mereka untuk kebaikan orang lain, sehingga bertambahnya kekayaan warga beriringan dengan semakin meningkatnya kebahagiaan warga negeri tersebut.

Pakar ekonomi Andrew Oswald dari University of Warwick, Inggris, menganjurkan bahwa hasil kajian ini perlu dikukuhkan lebih lanjut dengan memperbesar jumlah orang yang diteliti, hingga mendekati 1000 orang, agar kesimpulannya benar-benar meyakinkan. Terlepas dari itu, Oswald berujar bahwa hasil penelitian Dunn bakal mengejutkan kebanyakan pakar ekonomi. Sebab selama ini mereka beranggapan bahwa membelanjakan uang untuk diri sendiri memberikan kebahagiaan terbesar.

“Ini adalah hasil temuan yang membuat penasaran yang tidak akan Anda temukan di 101 buku pelajaran Ekonomi,” kata Oswald. (cs/ScienceNOW Daily News/www.hidayatullah.com]

Posted by Langgeng at 09:35:01 | Permalink | Comments (1) »

Saturday, November 10, 2007

Motivasi Diri

KITA AKAN MENJADI SEPERTI YANG KITA PIKIRKAN


Ketika masa-masa terakhir duduk di bangku SMA saya mengalami penurunan semangat belajar yang teramat drastis. Saya berfikir, bahwa kalaupun saya semangat belajar and toh saya tidak akan bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Orang tua saya tidak akan mampu membiayai kuliah saya. Jangankan membiayai kuliah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya sudah sulit. Kalaupun saya bekerja, pekerjaan apa yang bisa dapatkan dengan ijazah SMA. Penurunan semangat belajar itu berakibat pada jebloknya nilai ujian saya. Padahal saya ngga bodoh-bodoh amat. Buktinya ketika mengerjakan soal ujian fisika saya masih sempat menurunkan rumus sendiri, yang artinya saya memahami konsepnya tetapi saya tidak hafal rumusnya dan itu menghabiskan waktu ujian saya.

Ya. Ketika itu saya terbelenggu oleh suatu mindset (atau apalah namanya) bahwa saya ini anak orang miskin dan tek perlulah bercita-cita kuliah atau bekerja di tempat yang bergengsi. Maka ketika lulus pun saya akhirnya ha-nya menganggur di rumah. Tidak ada keberanian untuk mengambil inisiatif mencari bea siswa atau mencari kerja. 
Saya baru tersadar ketika saya melihat ada teman saya yang bisa kuliah padahal dia yatim dan ibunya juga miskin. Sementara kedua orang tua saya masih lengkap. Yang lebih mengejutkan saya ternyat teman saya itu mengajak salah seorang adiknya untuk bersekolah di kota tempatnya kuliah dan menanggung semua kebutuhan hidupnya.
Ternyata selama ini terkekang oleh mindset saya. Sehingga tidak mencoba berfikir mengenai solusi-solusi yang mungkin bisa saya tempuh. Tidak ada keberanian untuk mencoba keluar dari kungkungan kesulitan yang saya hadapi.
Agaknya yang saya alami ini juga dialami oleh banyak orang. Ada sementara orang yang tidak mau mencoba membuat sendiri sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukannya hanya karena merasa tidak berbakat. Ada orang yang malas untuk belajar bahasa Inggris atau komputer karena merasa sudah terlalu tua dan mudah lupa.
Padahal apa yang kita kira belum lah tentu benar. Kita tidak akan tahu bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu kecuali kita sudah mencobanya. Dulu (sekarang juga masih) para orang tua -terutama di desa-desa- kebanyak-an mereka mulai mendalami Islam saat usia mereka beranjak tua. Mereka tidak hanya belajar menghafal doa-doa te-tapi juga belajar membaca Al-Quran. Padahal kita tahun belajar membaca Al-Quran bukanlah hal yang mudah, teta-pi nyatanya mereka bisa. Kenyataan ini mematahkan anggapan bahwa orang yang sudah tua tidak bisa belajar. Me-mang mungkin akan menemui banyak kesulitan, tetapi bukan tidak bisa.
Jadi kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik kita mesti mengubah mindset (cara berpikir) kita. Selama kita tetap memandang rendah diri kita atau menganggap diri kita lemah, maka kita tidak akan memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru dan selama itu pula kita tidak akan berubah. Memang merubah mindset bukanlah sesuatu yang semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi memang harus diproses. Membuka diri untuk belajar dan menerima masukan dari orang lain adalah cara yang tepat untuk mengubah cara pandang kita terhadap diri kita. Cara lainnya adalah dengan lebih banyak membaca dan menggali informasi yang saat ini bisa kita peroleh dengan mudah di mana saja.
Allau a’lam
Posted by Langgeng at 05:51:32 | Permalink | Comments (2)

Monday, April 16, 2007

Retrospeksi

 

BERSAMA SIAPA ANDA MENGHABISKAN SEBAGIAN BESAR WAKTU,

MAKA AKAN MENJADI SEPERTI MEREKALAH ANDA

Cilacap (15 April 2007 - 03.35 wib)

Selepas SMA saya sempat menganggur selama 2 tahun. Saya habiskan waktu saya untuk melakukan hal - hal positif yang saya bisa. Membaca buku dan majalah, melakukan ibadah sunah, mengunjungi teman, bahkan membuat kliping artikel yang berkaitan dengan Islam. Begitu saya bekerja, saya bertemu dengan orang - orang yang lebih terbiasa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Kendati tidak 100% terpengaruh tetapi minimal ibadah sunah saya sudah mulai berkurang, dan saya mulai ikut - ikutan doyan nonton. Kalau tadinya saya aktif shalat sunnah rawatib, saat itu saya tinggal melaksanakan yang wajib saja.

Keadaan kembali berubah ketika saya pindah kerja di tempat yang baru. Di situ saya ketemu seorang teman kerja yang aktif di Jama’ah Tabligh. Karena pertemuan yang rutin akhirnya saya pun terbawa lebih giat lagi beribadah dan menambah tsqaqfah Islam saya, meski saya tidak ikut aktif di organisasinya.

Tatkala saya bertemu kembali dengan teman lama yang ternyata telah aktif di suatu gerakan dakwah, dan dia pulang untuk mengembangkannya di tempat saya tinggal, saya pun menjadi begitu bersemangat untuk ikut ambil bagian. Obrolan - obrolan kami tentang Islam seperti menyuntikan semangat baru kepada saya.

Suatu ketika saya berada pada kondisi yang jenuh, emosional, dan mudah mengeluh. Ternyata setelah saya selidiki karena lingkungan kerja saya pun penuh dengan orang - orang sibuk yang menimbun begitu banyak kekecewaan. Sehingga akhirnya keluar keluhan - keluhan dan sadar atau tidak saya pun mengalami hal serupa meski dengan intesitas berbeda. Muncul rasa malas dan tak bersemangat.

Penggalan - penggalan pengalaman saya di atas adalah sebuah pelajaran. Betapa pengaruh lingkungan sedemikian kuat. Kalaupun pola fikir kita tidak terpengaruh dengan lingkungan kita mungkin pola sikap kita yang akat terpengaruh. Bila kita biasa menghabiskan waktu kita untuk ngobrol dan nggosip maka kita akan sibuk memikirkan hal - hal remeh temeh yang bukan urusan kita atau tidak ada manfaatnya bagi kita. Bila kita lebih banyak menghabiskan wkatu kita dengan orang-orang yang berdiskusi tentang agama, semangat hidup, dan perjuangan, maka kitapun akan menjadi orang yang bersemangat dan memiliki daya juang. Karenanya bila kita ingin menjadi orang yang shalih bergaulah dan habiskan waktu yang kita miliki bersama orang - orang yang shalih. Bila kita ingin senantiasa berpikir dan bersikap positif perbanyaklah bergaul dengan orang yang senantiasa berpikir dan bersikap positif. Kalau kita ingin menjadi usahawan yang sukses bergaulah dengan para usahawah yang sukses.

Anda tentu - di dalam lubuk hati yang terdalam - mengakui bahwa menyontek adalah perbuatan yang tidak terpuji. Namun karena pengaruh lingkungan bisa saja anda terbawa dan ikut - ikutan teman - teman menyontek ketika ulangan atau ujian. Karenanya, bila anda ingin meraih hasil belajar yang baik tanpa menyontek, bergaulah dengan para juara kelas, yang memang mereka meraih hasil belajar dengan belajar keras. Setidaknya dengan bergaul denga mereka kita jadi tahu trik - trik apa yang mereka lakukan untuk menguasai materi pelajaran.

“Barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi ia akan terkena wanginya. Barang siap bergaul dengan pandai besi dia akan terkena asapnya.” (Al-Hadits) (LB)

Posted by Langgeng at 08:53:04 | Permalink | No Comments »