RENUNGAN AWAL TAHUN
Tahun 2007 baru saja berlalu. Berbagai bencana dan penderitaan masih menyisakan kepedihan bagi sebagian besar ummat manusia. Sebagian dari saudaa-saudara kita harus melewatkan malam pergantin tahun di tenda-tenda pengungsian dengan dukungan logistik yang sangat terbatas. Sebagian lainnya masih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam air bah yang masih tinggi karena tidak ada tempat mengungsi yang memadai. Ada pula yang masih berada dalam kesedihan yang sangat lantaran sanak keluarganya ada yang belum ditemukan karena ditelan bencana. Sementara nun jauh di sana saudara-saudara kita melewati pergantian tahun di tengah kekacauan negerinya, dicekam rasa takut, dan penderitaan yang diakibatkan oleh kebengisan tirani.
Adalah memilukan di tengah penderitaan ummat manusia yang begitu rupa, masih banyak pula orang yang melewatkan pergantian tahun ini dengan pesta pora, hura-hura, tiupan terompet dan percikan kembang api. Seolah bangga dengan apa yang telah dilakukan di tahun lalu yang telah melahirkan begitu banyak derita. Harus diakui berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, dan semburan lumpur panas adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Apakah semua itu layak untuk kita lupakan dengan tiupan terompet dan percikan kembang api?
Kini kita telah berada di awal tahun 2008. Banyak kalangan berharap di tahun baru ini kehiduoan menjadi lebih baik. Ya, kita memang tetap harus berharap. Karena tanpa harapan apalah artinya hidup. Tapi hendaknya harapan itu tidak berhenti sebagai ucapan, doa, atau sekadar retorika. Harapan tidak akan terwujud tanpa aktifitas nyata. Harapan tidak akan turun begitu saja dari langit seperti turunnya hujan. Betapapun besar optimisme kita, harus diakui jalan menuju kehidupan lebih baik akan masih panjang. Itupun bila kita segera memulai berbenah. Harapan hidup lebih baik hanya akan terwujud bila kita mau untuk berubah. Tidak saja sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat dunia. Artinya bukan sekadar kehidupan kita secara individual saja yang harus kita benahi, melainkan sebagai masyarakat yang satu sama lain saling berinteraksi juga harus berubah. Perubahan yang pertama harus kita lakukan adalah perubahan cara berpikir kita atau cara pandang kita terhadap kehidupan ini.
Kini kita telah berada di awal tahun 2008. Banyak kalangan berharap di tahun baru ini kehiduoan menjadi lebih baik. Ya, kita memang tetap harus berharap. Karena tanpa harapan apalah artinya hidup. Tapi hendaknya harapan itu tidak berhenti sebagai ucapan, doa, atau sekadar retorika. Harapan tidak akan terwujud tanpa aktifitas nyata. Harapan tidak akan turun begitu saja dari langit seperti turunnya hujan. Betapapun besar optimisme kita, harus diakui jalan menuju kehidupan lebih baik akan masih panjang. Itupun bila kita segera memulai berbenah. Harapan hidup lebih baik hanya akan terwujud bila kita mau untuk berubah. Tidak saja sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat dunia. Artinya bukan sekadar kehidupan kita secara individual saja yang harus kita benahi, melainkan sebagai masyarakat yang satu sama lain saling berinteraksi juga harus berubah. Perubahan yang pertama harus kita lakukan adalah perubahan cara berpikir kita atau cara pandang kita terhadap kehidupan ini.
Allah berfirman
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan* yang ada pada diri mereka sendiri.
Selama kita masih memandang kehidupan ini sebagai tempat bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu, maka keadaan bukan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya. Semestinya kita kembali menyadari bahwa kehidupan ini adalah ladang dimana kita menanam kebajikan dengan mentaati perintah-perintahNya dan akhirat adalah tempat kita kembali untuk menuai apa yang telah kita tanam. Atau dengan kata lain sebagaimana firman Allah hidup ini adalah pengabdian kepadaNya. Cara pandang semacam inilah yang adakn mendasari perubahan yang kedua yakni perubahan sikap. Dengan memandang hidup ini adalah pengabdian kepadaNya, maka segala perbuatan kita akan senantiasa menjadi sebuah persembahan kepadaNya. Itu artinya kita harus selalu mentaati semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kita tak boleh memperlakukan kehidupan ini termasuk para penghuninya (manusia dan alam) sesuka hati kita. Kita tak boleh mengeksplorasi kekayaan alam ini kecuali dengan memperhitungkan dampaknya begi kehidupan ini.
Masih ada harapan selagi kita bersedia hidup dalam tuntunan hidayahNya.
Masih ada harapan selagi kita bersedia hidup dalam tuntunan hidayahNya.
Selasa pagi, 1 Januari 2008, 01.17wib
* Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.