Wednesday, January 2, 2008

RENUNGAN AWAL TAHUN

Tahun 2007 baru saja berlalu. Berbagai bencana dan penderitaan masih menyisakan kepedihan bagi sebagian besar ummat manusia. Sebagian dari saudaa-saudara kita harus melewatkan malam pergantin tahun di tenda-tenda pengungsian dengan dukungan logistik yang sangat terbatas. Sebagian lainnya masih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam air bah yang masih tinggi karena tidak ada tempat mengungsi yang memadai. Ada pula yang masih berada dalam kesedihan yang sangat lantaran sanak keluarganya ada yang belum ditemukan karena ditelan bencana. Sementara nun jauh di sana saudara-saudara kita melewati pergantian tahun di tengah kekacauan negerinya, dicekam rasa takut, dan penderitaan yang diakibatkan oleh kebengisan tirani.
Adalah memilukan di tengah penderitaan ummat manusia yang begitu rupa, masih banyak pula orang yang melewatkan pergantian tahun ini dengan pesta pora, hura-hura, tiupan terompet dan percikan kembang api. Seolah bangga dengan apa yang telah dilakukan di tahun lalu yang telah melahirkan begitu banyak derita. Harus diakui berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, dan semburan lumpur panas adalah akibat ulah tangan manusia sendiri. Apakah semua itu layak untuk kita lupakan dengan tiupan terompet dan percikan kembang api?
Kini kita telah berada di awal tahun 2008. Banyak kalangan berharap di tahun baru ini kehiduoan menjadi lebih baik. Ya, kita memang tetap harus berharap. Karena tanpa harapan apalah artinya hidup. Tapi hendaknya harapan itu tidak berhenti sebagai ucapan, doa, atau sekadar retorika. Harapan tidak akan terwujud tanpa aktifitas nyata. Harapan tidak akan turun begitu saja dari langit seperti turunnya hujan. Betapapun besar optimisme kita, harus diakui jalan menuju kehidupan lebih baik akan masih panjang. Itupun bila kita segera memulai berbenah. Harapan hidup lebih baik hanya akan terwujud bila kita mau untuk berubah. Tidak saja sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat dunia. Artinya bukan sekadar kehidupan kita secara individual saja yang harus kita benahi, melainkan sebagai masyarakat yang satu sama lain saling berinteraksi juga harus berubah. Perubahan yang pertama harus kita lakukan adalah perubahan cara berpikir kita atau cara pandang kita terhadap kehidupan ini.

Allah berfirman

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan
* yang ada pada diri mereka sendiri.

Selama kita masih memandang kehidupan ini sebagai tempat bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu, maka keadaan bukan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya. Semestinya kita kembali menyadari bahwa kehidupan ini adalah ladang dimana kita menanam kebajikan dengan mentaati perintah-perintahNya dan akhirat adalah tempat kita kembali untuk menuai apa yang telah kita tanam. Atau dengan kata lain sebagaimana firman Allah hidup ini adalah pengabdian kepadaNya. Cara pandang semacam inilah yang adakn mendasari perubahan yang kedua yakni perubahan sikap. Dengan memandang hidup ini adalah pengabdian kepadaNya, maka segala perbuatan kita akan senantiasa menjadi sebuah persembahan kepadaNya. Itu artinya kita harus selalu mentaati semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kita tak boleh memperlakukan kehidupan ini termasuk para penghuninya (manusia dan alam) sesuka hati kita. Kita tak boleh mengeksplorasi kekayaan alam ini kecuali dengan memperhitungkan dampaknya begi kehidupan ini.
Masih ada harapan selagi kita bersedia hidup dalam tuntunan hidayahNya.

Selasa pagi, 1 Januari 2008, 01.17wib



* Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Posted by Langgeng at 00:54:07 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, May 15, 2007

Kisah yang menginspirasi

DUIT “HU AKBAR”

“Orang-orang itu keliru. Di dalam Al-Quran saya tidak menemukan satu ayatpun yang menyuruh kita kaya. Yang ada kita disuruh beriman dan beramal sholeh. Jadi kalau saya tidak kaya saya tidak gelisah. Tapi kalau saya tidak beriman dan tidak beramal sholeh, baru saya gelisah.” demikian ungkap seorang guru dimana saya bekerja. Beliau ini memang terbilang “aneh” dan sering menyulut kontroversi di kalangan rekan-rekannya karena ide-ide yang dilemparkannya. Namun saya tidak sependapat dengan mereka. Kebanyakan dari ide – ide yang beliau sampaikan melalui berbagai dialog yang beliau lakukan dengan siapapun –menurut saya memang mencerminkan- spiritualitas beliau yang begitu kuat. Maksud saya, kesadaran beliau akan keberadaan kita sebagai makhluk yang harus mentaati perintah-perintah dan menjauhi laranganNya.
Dulu ketika awal-awal bertemu beliau saya sering mendengar beliau mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak menjadikan Allahu Akbar (maksudnya tidak meng-Akbarkan Allah), tetapi menjadikan pekerjaan “hu Akbar”, duit “hu Akbar”, dan sebagainya. Sebuah ungkapan yang memang aneh (karena beliau memang tidak paham bahasa Arab), tetapi mencerminkan, ya itu tadi, spiritualitas yang begitu kuat. Setiap mendengar adzan beliau langsung mengajak siapapun untuk shalat dulu. “Ayo, sudah Allahu Akbar”, katanya.
Yang unik dari beliau ini adalah beliau hingga kini belum bisa membaca Al-Quran, tetapi “hobi”nya adalah menelurusi terjemahan Al-Quran. Dari terjemahan ayat-ayat itulah beliau terinspirasi, tergugah, dan kemudian mendorong semangatnya untuk taat kepada Allah. Di samping itu kendati beliau mempunyai keterbatasan verbal di dalam mengungkapkan ide-idenya. (Beliau termasuk tidak pandai memilih kata-kata), beliau tetap bersemangat menyampaikan ide-ide Islam yang beliau pahami kepada siapapun. Mulai dari kepala sekolah, rekan-rekan guru, satpam, pesuruh (istilah kerennya OB), para bakul di kantin sekolah, bahkan dengan para mubaligh yang beliau temui. Kita bisa menyebut aktifitas beliau ini sebagai dakwah atau amar ma’ruf nahi mungkar. Tetapi tentu tidak menganggapnya begitu. Beliau melakukan semua itu karena sebuah kesadaran bahwa dimanapun beliau berada harus bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. “Kalau ndak begitu percuma kamu jadi sarjana,” kata beliau menirukan pesan kakaknya. Ada yang menentang? Sudah pasti.
Kembali kepada ungkapannya beliau yang saya sampaikan di atas, tentu yang beliau maksud bukanlah bahwa kita tidak boleh kaya. Melainkan apakah kekayaan yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak atau tidak. “Kalau makan pepaya jangan sama kulit dan bijinya,”kata beliau. “Sebarkan bijinya biar menjadi tanaman yang nantinya akan berbuah dan dinikmati banyak orang. Sedang kulitnya bisa dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman tadi.” Ya, memang kekayaan acap membuat kita lupa diri. Lupa bahwa bila kita tak pandai mengelola, kekayaan bisa menjadi beban di dunia dan belenggu di akhirat kelak. Betapa tidak? Orang harus menyiapkan dana khusus untuk melakukan pemeliharaan dan pengamanan harta yang dimiliki. Bukankah ini menjadi beban? Ya tidak bila kita bisa mengelolanya dengan baik. Seorang pengusaha di daerah Kroya berprinsip lebih baik memagari perusahaannya dengan nasi dari pada memagarinya dengan kawat berduri. Maksudnya, dia lebih suka membagikan sebagian rejeki yang diperoleh dari usahanya untuk kesejahteraann masyarakat sekitar dari pada untuk membeli kawat berduri untuk pengamanan perusahaannya. Dengan berbagi keberadaannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Maka dia tidak perlu khawatir orang-orang sekitar akan mencuri atau merampok hartanya. Bahkan bukan mustahil ikut menjaganya.
Menjadi belenggu di akhirat? Ya, tentu saja. Bila harta yang kita miliki justru membuat kita lalai dariNya. Kita sibuk mengumpulkan, menghitung-hitung, dan menahan hak para fakir miskin yang ada pada harta itu. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Allah di dalam Surat Al-Humazah.
Semoga kita menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita, dengan menjadikan menjadikannya sebagai sarana untuk mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Allahu Akbar!! Allahu a’lam bishshawab.
Posted by Langgeng at 06:43:33 | Permalink | Comments (4)